Selingkuh Itu Sakit Jiwa

Kata ini seakan begitu akrab di telinga masyarakat urban sekarang ini. Saya lantas teringat pada judul buku kumpulan cerita pendek (cerpen) karya Agus Noor berjudul “Selingkuh Itu Indah”. Betulkah begitu?

Bagi yang terlibat dalam perselingkuhan, bisa jadi begitu. Walau tentu saat indah itu hanya “saat-saat bersama” mengingat selingkuh berarti menipu pihak yang diselingkuhi, yaitu pasangan resmi dan sah. Begitu pasangan selingkuh berpisah dan kembali ke dunia nyata dimana ia berperan memasang topeng, maka sudah pasti perselingkuhan tak lagi indah. Itu karena peselingkuh -itu istilah saya untuk pelaku selingkuh, sebut saja begitu- harus berpura-pura tak terjadi perselingkuhan. Biasanya caranya ada dua yang berada di kedua kutub. Menjadi makin dingin dan menghindar dari pasangan resmi, atau justru makin berlaku manis sebagai kompensasi rasa bersalah.

Pada dasarnya, selingkuh berarti sama saja dengan khianat. Khianat berarti tidak amanah. Dan agama apa pun melarang perbuatan nista ini. Dalam bisnis, selingkuh berarti mengingkari perjanjian atau wanprestasi. Misalnya saja kita menjalin kerjasama dengan dua atau lebih pihak yang masing-masingnya akan tidak menyukai bila kita bekerjasama dengan yang lain.

Secara psikologis, tindakan berselingkuh merupakan perbuatan abnormal. Pelakunya bisa dipastikan mengalami gangguan kejiwaan. Sejumlah studi yang sejak dekade 1970-an dari Orzeck dan Lung, Drigotas, Brand, atau Feldman dan Cauffman mengarah ke sana. Menurut Orzeck misalnya, hal ini tergantung pada tipe kepribadian. Mereka yang tergolong dalam “Big Five Personality Factors” (neuroticism, extroversion, openness to experience, agreeableness, and conscientiousness) cenderung lebih sulit selingkuh karena kepercayaan mereka pada hubungan interpersonal yang dibangun bersama pasangan sahnya. Intinya, peselingkuh mengalami “dahaga tak terpuaskan” akan rasa cinta dan dorongan seksual dan memilih untuk memenuhinya daripada menjaga rasa saling-percaya dengan pasangan resmi.

Karena itu, saya cuma bisa geleng-geleng kepala saat menyaksikan acara “Uya Memang Kuya” dan menyaksikan remaja-remaja yang dihipnotis malah bangga sudah berselingkuh. Halah! Dasar sakit!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s