Ulang Tahun Jakarta

Hari ini ulang tahun kota Jakarta. Kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Walau sudah pernah menyambangi kota-kota lain, tapi kok sepertinya balik-balik lagi ke Jakarta lagi. Walau begitu, jujur saja, kalau pensiun nanti, saya tidak berminat menetap di kota ini. Karena sepertinya beragam problema begitu menggurita di sini, dengan pejabat yang seharusnya bisa menata kota terlihat seperti slogan Ligna saja “kalau sudah duduk, lupa berdiri”. Atau kalau mau ditafsirkan, bisa saja diubah menjadi “kalau sudah menjabat, lupa janji kampanye”.

Tentu, saya tidak membutakan mata dari beberapa kemajuan kota ini. Seperti adanya bus komuter moda transportasi baru yaitu Transjakarta yang melaju di atas busway. Ini memberi alternatif angkutan umum yang bersih dan cukup cepat, walau masih belum nyaman dan tepat waktu. Juga perbaikan banjir kanal barat, perbaikan jalan dan penataan taman kota. Pembangunan pagar taman keliling Monas dan air mancur bundaran Hotel Indonesia walau menelan biaya amat mahal, juga telah turut mempercantik kota.

Namun saya tidak bisa mengapresiasi maraknya pembangunan pusat perbelanjaan yang malah mengancam pasar tradisional dan merebut lahan warga. Juga menjamurnya properti berupa apartemen yang malah banyak tak terserap pembeli, sementara di sisi lain kota warga masih kesulitan mendapatkan rumah yang layak.

Kita semua juga masih melihat begitu banyak problema lain termasuk kemacetan dan penyediaan lapangan kerja. Penataan kota yang masih juga belum teratur hingga menyebabkan problema tak perlu seperti kerusuhan di makam Mbah Priok di Koja, Tanjung Priok juga bikin pening kepala. Semua itu menjadi pekerjaan rumah bagi Gubernur DKI Jakarta dan jajarannya agar di usia ke-483 ini Jakarta kembali menjadi kota yang nyaman dan dapat dibanggakan. Jangan karena tak mampu memberikan solusi, malah menyalahkan warga (seperti diutarakan bang Foke yang menganggap kemacetan karena semua orang memakai mobil pribadi, baca di sini) atau menyalahkan alam (seperti diutarakan oleh Bang Foke tentang banjir, baca di sini). Sebaiknya para pemangku kepentingan duduk bersama mencari solusi permanen jangka panjang dan tidak berbasis “proyek” musiman semata.

Bagaimanapun, Jakarta telah menjadi rumah bagi jutaan orang. Sehingga tak keliru bila kita sampai menyanyikan lagu dari Koes Ploes, meski perjuangan hidup di Jakarta teramat berat.

ke Jakarta aku kan kembali / walaupun apa yang kan terjadi” (Kembali Ke Jakarta, lagu oleh Koes Ploes)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s