Selamat Jalan Ibu Ainun, Teladan Kami…

Habibie berdo’a & menangis di pusara istri tercintanya (Kompas.com/Kristianto Purnomo)

Kemarin, dr. Hj. Hasri Ainun Besari-Habibie dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Beliau wafat pada usia 73 tahun pada hari Sabtu (22/5) setelah beberapa lama dirawat di Rumah Sakit Ludwig Maximilians-Universitat, Klinikum Grohadem, Muenchen-Jerman. Sesuai persyaratan dari pemerintah, pemakaman di TMP dikhususkan hanya untuk anggota militer terpilih atau warga negara non-militer penyandang bintang jasa terutama Mahaputra. Sementara Ibu Ainun memiliki tiga bintang Mahaputra. Satu adalah Mahaputra Utama yang disematkan Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1982, kedua adalah Mahaputra Adipurna yang dianugerahkan tanggal 28 Mei 1998 dan Mahaputra Adipradana yang dianugerahkan pada  6 Agustus 1998, keduanya disematkan oleh Presiden B.J. Habibie.

Ibu Ainun adalah teladan yang luar biasa bagi wanita Indonesia. Ia tidak mengejar karier, bahkan menghentikan pekerjaannya sebagai dokter spesialis anak di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) demi mendampingi suaminya, namun ia tidak berhenti berkarya dan berbakti untuk masyarakat. Sehingga beliau tidak cuma melakukan pekerjaan domestik seperti mengurus rumah, suami dan anak semata, tapi juga berperan aktif dalam pekerjaan sosial di masyarakat. Keseimbangan antara kesibukan di luar rumah dan di dalam rumah imbang dan harmonis, sehingga tampak pada kedua anaknya yang sukses meraih gelar doktor sebagaimana ayahnya. Kariernya terpatri lebih kuat sebagai pengabdi masyarakat dan kemanusiaan.

Ia memiliki dan mengayomi sejumlah yayasan yang berperan memajukan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia, antara lain dengan memberikan beasiswa pendidikan. Ia pun mendirikan Rumah Sakit Mata Aini yang tentunya bertujuan kemanusiaan. Namun di balik semua itu, bagi saya yang paling indah adalah cinta dan dukungan bagi suaminya, sosok yang telah dikenalnya semenjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Cinta dan dukungan yang membuat sosok tegar B.J. Habibie tak kuasa membendung air matanya dan limbung saat tanah mulai menutupi peti jenazah istrinya. Cinta dan dukungan yang membuat saya iri pada mereka berdua. Selamat jalan Ibu Ainun, semoga teladan sejukmu terus menerangi hati kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s