Moral Publik & Moral Privat

Rekan dari rekan saya -atau kalau meminjam istilah yang dulu dipopulerkan Friendster: second degree friend- menceritakan pengalamannya sebagai petugas Customer Service (CS) untuk nasabah premium di bank papan atas. Salah satunya ia ‘curcol’ tentang kebiasaan orang-orang superkaya itu yang aneh-aneh, di antaranya suka marah-marah. Ia menyebut contoh salah satunya, seorang tokoh terkenal yang andaikata saya sebut inisialnya saja Anda pasti tahu siapa dia, karena itu saya tak sebut sama sekali. Tokoh ini katanya sangat kaya, kartu kreditnya -yang tentu semuanya platinum atau sekelasnya- sangat banyak. Limit satu kartu saja bisa Rp 100 juta sendiri. Dan itu pun masih kurang! Si tokoh ini kerap berbelanja di luar negeri dan menelepon dari toko di sana, minta limit kartunya dinaikkan mendadak. Dan yang kelimpungan adalah si CS ini karena wewenangnya kurang. Maka jadilah ia dimarah-marahi dan dibentak-bentak.

Well, saya mengurut dada. Selain keluarga ayah saya dulu sempat dekat dengan keluarga beliau, saya jadi makin tahu betapa moral yang ditampilkannya di hadapan publik semata cuma topeng belaka. Moral aslinya ya sesuai tingkah laku yang ditampilkannya kepada CS bank langganannya tadi. Saya jelas juga makin tahu bahwa citra “pembela orang kecil” yang ditampilkan dirinya dan istrinya semata cuma pemoles bibir belaka. Bagaimana mau membela orang kecil, wong hobbynya menghambur-hamburkan uang begitu?

Sebenarnya, kalau mau dikatakan dengan sebenar-benarnya -istilahnya frankly speaking– orang-orang macam ini adalah munafik. Mereka adalah pemimpin yang zalim dan tak pantas dijadikan pemimpin. Sayangnya, moral dan kelakuan mereka yang asli berhasil ditutup dari publik, antara lain dengan pengaruh dan uang yang dimiliki. Padahal, andaikata hal ini terungkap, seharusnya bukan cuma tidak dipilih sebagai pemimpin, tapi malah kalau perlu disidik dari mana saja ia mendapatkan uang sebanyak itu padahal kita tidak tahu apa usahanya.

Meski begitu, saya konsisten menentang campur tangan negara dalam urusan moral. Biarkan itu jadi urusan privat. Masih banyak urusan yang harus dibereskan negara daripada mencampuri urusan orang-per-orang warganya. Di sini, yang menjadi keprihatinan saya cuma satu: mengapa masih ada pasal pencemaran nama baik. Karena kalau tidak ada, tentu orang-orang dengan moral negatif akan mudah diungkap. Dan tentunya ini jadi kontrol bagi tiap orang agar berhati-hati menjaga diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s