Dugem

Sudah lama sekali saya tidak dugem. Terakhir sekitar setahun lalu bersama “TTM” saya yang bule. Selain karena tidak suka, tidak ada yang mengajak (hehe, curcol nih), juga tidak ada keharusan. Dulu, saya sempat ‘harus’ dugem karena bekerja di media bertema ‘gaya hidup’.

Dugem alias “Dunia Gemerlap” atau ada yang bilang “Dunia Gempita” merupakan istilah gaul untuk kehidupan malam (night life). Bila dulu dunia malam identik dengan prostitusi belaka, sehingga di tiap kota besar dunia bisa dipastikan ada kawasan “lampu merah”, istilah “dugem” menggantikannya menjadi sebuah alternatif hiburan. Tidak harus ada prostitusi, walau tentu yang namanya pergaulan bebas pasti tetap ada. Apalagi rokok dan minuman beralkohol, bisa dipastikan tetap melekat padanya.

Jakarta, bagi yang pernah menelusuri kehidupan malamnya, bisa disejajarkan dengan kota-kota besar lain di dunia, walau tentu tak “semerah” Bangkok, yang kerap disebut sebagai “the capital of Asian night life” itu. Saya sih tidak semendetail Moammar Emka -yang pengalamannya dituangkan dalam Jakarta Undercover- itu, tapi sekedar tahu-lah. Satu-dua kali menemani teman saya yang berkebangsaan asing -kita kerap menyebutnya bule- dugem, saya jadi tahu bahwa fasilitas di Jakarta memang yahud. Mulai dari yang “full service” -maksudnya lengkap dengan prostitusinya- sampai yang “safe player” ada. Tinggal pilih. Yang lengkap ada di kawasan Kota, sementara yang aman di Kemang.

Meski mengaku negara beragama sampai ada organisasi keagamaan bermassa banyak yang hobi beringas ngamuk-ngamuk kepada yang tidak sependapat dengan mereka, toh dunia malam Jakarta tetap aman-aman saja. Meski saya tidak punya kapasitas menunjukkan buktinya, namun rumor yang terdengar sih karena “rajin setor” kepada pimpinan organisasi keagamaan bersangkutan. Makanya, karena tahu hal itu, saya tak pernah sekali pun berniat menghadiri acara yang dibuat organisasi keagamaan macam itu. Masih lebih baik mendengarkan kaset murottal saja lah…

Kembali ke soal dugem, sebenarnya yang dicari dari tempat tersebut adalah refreshing, menyegarkan pikiran. Hanya saja dengan cara “have fun go mad” melalui aktivitas “melantai” alias nge-dance. Tentu ini menghabiskan energi dan membuat pelakunya merasa energik dan recharge kembali. Namun, sebenarnya aktivitas utamanya ya bersosialisasi atau gaul. Mengobrol ngalor-ngidul dengan teman, tertawa bersama, nge-dance bareng dengan iringan musik dari DJ.

Cuma memang pilihan tempat refreshing tergantung karakter seseorang dan dengan siapa akan berinteraksinya. Kalau dengan keluarga, apalagi ada anak kecil atau orangtua, tentu mustahil kita dugem. Tapi jangan salah, kalau memang sudah ‘jatuh cinta’ sehingga addicted dengan dugem, meski sudah berkeluarga pun akan tetap dugem. Jadi, bukan berarti dugem hanya milik anak muda saja, karena sering sekali saya lihat banyak yang sudah berumur ikut dugem.

Hanya satu yang pasti dari dugem, kita harus berkantong tebal untuk menyukai hobi ini. Maka, bak BlackBerry, banyak yang menganggapnya sebagai lambang status sosial. Ada yang memaksakan dugem hanya karena ingin dianggap gaul dan berkelas. So, kalau memang suka, siap-siaplah untuk merogoh kantong dalam-dalam. Enjoy it!

Foto: Suasana diskotik dugem. Sumber Foto: wikimedia.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s