Tahiyat yang kurindu

Betapa terkejutnya aku saat Kau hamparkan duri itu di saat aku tergopoh mengetuk pintuMu

Tak terkira sedihku menerima apa yang memang seharusnya pantas kuterima

aku bahkan pantas menerima lebih dari sekedar duri di kaki

yang menolakku yang hina dan kotor untuk menemuiMu Yang Maha Suci


Belum pernah sepanjang hidupku kurindukan tahiyat sebegitu

tandakan akhir dari pertemuanku denganMu

mengusaikan deritaku merasa tertolak di pintuMu

menyusutkan tangisku tercoret dari daftar tamuMu


Tak mampu lagi kuberucap kata maaf dan ampun

karena bila aku Kau, tak kupunya sifat itu

aku gunakan sifat mahapenghukum yang amat keras


tapi kutahu Engkau tak begitu

Engkaulah Sang Pengasih

Maha Kasih lebih dari segala yang pengasih

Engkaulah samudra keluasan sanubari

memberi jauh lebih dahsyat daripada menerima

Yang Maha Kaya tempat segala pinta bermuara


Wahai penerima shalat

Wahai pelebur mayat

Wahai penghitung yang amat cermat


terimalah tak hanya tahiyat dan shalatku

tapi terimalah aku kembali jua

hingga tak perlu lagi tahiyat kurindu

di saat aku justru rindu teramat

padaMU


{puisi oleh Bhayu M.H.}

Catatan pribadiku: Puisi ini untuk mencatat pengalaman mistik pribadi saat shalat Jum’at kemarin di Masjid Agung Sunda Kelapa. Pengalaman yang bertentangan dengan yang pernah terjadi dahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s