Gitu Aja Kok Repot…

Kalau Gus Dur bisa ‘nyeletuk’ dari balik kuburnya, ia mungkin akan berkata… “Gitu aja kok repot!”

Ya, betapa tidak repot, karena pemakamannya hari ini ternyata ‘membuat repot’ banyak pihak. Selain menyedot perhatian besar dari masyarakat, sebagai mantan presiden, ia memang harus dimakamkan secara kenegaraan. Berarti itu melibatkan sekian banyak personel untuk upacara dan pengamanannya, mengingat upacara pemakaman dipimpin langsung oleh Presiden SBY. Akibatnya, selain ribuan santri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur -yang menjadi tempat peristirahatan terakhir mendiang kiai tersebut- harus dievakuasi, juga masyarakat umum yang hendak melayat menjadi kesulitan. Sebuah pengorbanan yang harus rela diberikan oleh masyarakat demi sebuah penghormatan terakhir resmi dari negara.

Meski saya bukan santri dan juga bukan pengagum beliau, namun harus diakui bahwa beliau memberi kontribusi besar bagi bangsa ini. Yang paling diingat rakyat adalah bagaimana Gus Dur menghapus ‘tabu Orde Baru’, antara lain dengan membolehkan pertunjukan barongsai dan menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional semasa ia menjadi Presiden RI. Namun, sewaktu ia menjadi Presiden RI pula masyarakat dibuat selalu berdebar jantungnya tiap hari Jum’at. Karena Gus Dur punya kebiasaan mengeluarkan pernyataan kontroversial yang keras di hadapan wartawan sehabis melaksanakan ibadah shalat Jum’at. Kebiasaannya melakukan ‘safari’ ke luar negeri dan seringkali pula diwarnai kecaman terhadap tokoh-tokoh di dalam negeri juga sulit dilupakan.

Hanya saja ada satu hal yang tak bisa digantikan oleh orang lain: Gus Dur merupakan icon pejuang demokrasi dan HAM yang sulit ditandingi di Indonesia. Sebagai seorang egaliter, ia memiliki kawan di banyak kalangan. Hal ini terbukti dari pemakamannya hari ini yang dibanjiri pelayat dari segala lapisan dan unsur masyarakat. Tidak hanya para santri yang menghormati kiai besarnya, tapi juga umat beragama lain. Karena itulah nama besarnya akan tetap dikenang bangsa ini, lepas dari segala kontroversi yang menyertai hidupnya.

Selamat jalan Gus… biarlah ALLAH yang akan menilai segala sepak terjangmu di bumi ini. Gitu aja kok repot ya Gus?

Foto illustrasi dari kepakgaruda.wordpress.com

2 responses to “Gitu Aja Kok Repot…

  1. Pak Bhayu yth,

    Salam kenal, saya menyukai cara-cara Bapak memaparkan ide, mengalir dan enak dibaca. Saya musti banyak berguru nih sama Bapak, hehe..

    Mengikuti 2 artikel Bapak tentang Gus Dur, seperti yang Bapak juga telah sampaikan bahwa Bapak bukan pengagum Gus Dur, hal tersebut oke-oke saja dan hak setiap orang.

    Akantetapi ada sedikit hal yang mengusik benak saya dengan kata-kata Bapak.
    -“betapa tidak repot, karena pemakamannya hari ini ternyata ‘membuat repot’ banyak pihak”
    -“selain ribuan santri Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang Jawa Timur -yang menjadi tempat peristirahatan terakhir mendiang kiai tersebut- harus dievakuasi”
    -apa sih jasa beliau? 2 tahun menjadi presiden…

    Saya adalah seorang bocah yang masih belum banyak tahu seperti Bapak. Saya dibesarkan di lingkungan nahdliyin, dan banyak mendengar bagaimana perjuangan ulama NU dan kelenturannya, termasuk Gus Dur. Walupun demikian saya juga menerima ‘ikhtilaf’ berbagai macam perbedaan di kalangan ulama. Saya pengagum Ahlul-Byt, yang senantiasa didengungkan oleh syiah. Bagi saya JIL juga bukan sesuatu yang harus saya tentang. Hanya saja saya selalu tidak sepakat dengan kekerasan yang berlindung di balik topeng Islam.

    Tulisan ini saya tulis karena semata ingin bertukar pendapat dan tidak lebih, karena bergumul dengan orang-orang seperti Bapak, saya yakin membuat saya berkembang.

    Kalo diizinkan, berikut celetuk pikiran saya ketika membaca pemikiran Bapak:

    1. Saya yakin, Gus Dur tidak pernah ingin merepotkan orang. Upacara kenegaraan yang dilakukan semata sebuah penghargaan terhadap apa yang sudah beliau lakukan terhadap bangsa ini (walau Bapak juga menyangsikan apa sih yang sudah beliau lakukan). Suatu ketika saya sempat setengah jam menyaksikan Metro TV di Konjen-Sydney yang mengulas betapa banyak hal yang dilakukan Gus Dur dlm masa 2 tahun itu yang tidak banyak diketahui publik. Tayangan itu pada tanggal 1 Januari sekitar pukul 8 malam New South Wales time (sekitar pkl 4 WIB). Dan saya yakin tidak semua pihak juga merasa direpotkan seperti ungkapan tersebut.

    2. Pemakaian diksi ‘evakuasi’ sepertinya kurang tepat dalam wacana di atas. Sepertinya kata ‘evakuasi’ lebih enak didengar dalam konteks ‘evakuasi jenazah..’, ‘evakuasi korban longsor…’ atau ‘evakuasi penduduk agar tidak jatuh korban lebih banyak akibat bencana…’. Itu jika ditilik dari diksi. Jika berkaitan dengan discourse analysis, adakah Bapak pernah merasakan semangat menjadi santri? Pernahkah terlintas bagaimana mereka melakukan hal-hal untuk guru-guru dan kyai mereka dengan hati ikhlas dan ridho? Klo pada tayangan pemakaman bahwa penggali kubur Gus Dur adalah santri-santri yang melakukannya secara bergantian. Sekedar berbagi rasa saja, 6 tahun saya pernah merasakan apa yang dirasakan ‘ribuan santri Tebuireng’ (sedikit koreksi penulisan, sepertinya bukan Tebu Ireng seperti dalam artikel :-). Sebagai santri tidak akan merasa keberatan dengan hal tersebut malah sebuah kebanggaan yang membuktikan adanya penghormatan masyarakat yang luar biasa terhadap panutan mereka. “Masyarakat umum menjadi kesuliatan..?” ehm…adakah survey yang membuktikan bahwa mereka melihat penghormatan terakhir sebagai upaya penyulitan? Jangan-jangan statement ini subyektifitas penulisan, ups…mohon dimaafkan (tidak bermaksud tidak sopan pada yang lebih senior lho…:-)

    3. Saya pernah kenal dekat dengan salah satu orang yang masih kerabat dengan keluarga Gus Dur (yang beberapa hari ini dimuat di media beliau menjadi juru bicara yg menampik politisir Muhaimin Iskandar ttg ‘islah’ PKB pasca Gus Dur wafat). Saya barusan menyimak beritanya, dan saya sepakat bahwa Gus Dur sedikitpun tidak mengharapkan gelar pahlawan. Saya pribadi (warga nahdliyin wlo bukan tulen, krn udah kecampuran lain2, hehehe….) menyatakan ‘kami tidak butuh Gus Dur disebut pahlawan’. Bagi hati kecil nurani saya beliau lebih dari sekedar itu. Itu mungkin alasan seujung jarum yg sempat dipertanyakan kenapa usul itu justru bukan dari fraksi PKB. It doesn’t really a big matter for us.

    Pak Bhayu yang sangat saya hormati, mohon maaf yang kesekian kalinya untuk apa yang telah saya tulis. Saya sengaja tidak mau memaparkan ini secara terbuka di social blog Kompasiana (wah..jangan dijadikan jawaban atas komen saya ini sebagai artikel di kompasiana ya, Pak.. saya jelas tutup mulut karena belum pandai beradu argumen, hehe…) Semata saya ingin belajar banyak dari Bapak, tidak lebih. Penyampaian hal seperti ini semoga menjadi awal belajar bagi saya untuk bisa menjadi seperti Bapak.

    Saya juga bisa sangat memahami kenapa Bapak memaparkan hal-hal tersebut yang berseberangan dengan saya, karena saya berusaha memandangnya dari sudut kacamata pandang Bapak yang berbeda dengan saya. Saya juga diajarkan melihat sesuatu dari sudut pandang nol dalam melihat perbedaan. Nilai inilah yang mengantar saya untuk bisa melihat pluralisme secara netral dan perbedaan pendapat antar madzhab (gubrakk…waduh bahasanya tinggi amat, ini manfaat baca artikel2 Bapak kali ya, hehe…)

    Saya pribadi, moga warga nahdliyin yg lain tidak, merasa sedikit terluka dengan ungkapan ekspresi Bapak di Kompasiana. Untungnya banyak orang2 NU yang gaptek kali ya (kejujuran ini Pak, hehe…), jadi belum banyak yang berbaris sebagai Kompasioner sehingga tidak terjadi perang urat syarat kayak akun ‘Faizal Assegaf’ dan teman2 yang beda aliran seperti Bung Samsul Hadi, Inge, Zul ketika diskusi NKRI.

    Oiya, Pak. Saya absolutely agree dengan ungakapan Bapak nih, “jika perokok mengatakan lebih baik tidak makan, uang dipake beli rokok; kalo saya lebih baik menyisakan uang makan buat beli buku” hehe..ungkapan yang bagus, Pak. Saya sealiran dengan Bapak.

    Demikian ya, Pak. Salam penuh persahabatan dan mohon diterima saya sebagai muridnya (lagi nyari suhu nih untuk ngasah otak biar ga makin tumpul…). Sekalian tips baca buku ala scanner-nya masih senantiasa saya tunggu ya..

    Salam hangat,

    Mila
    Tempat lahir Pandaan, Jawa Timur
    Saat ini nyantri di New South Wales
    email: mukhzamilah@yahoo.com
    (data bener, bukan samaran, Pak. Hehe… ^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s