Karakter

Hippocrates sejak zaman “cindil abang” telah mencoba membuat framing karakter manusia. Di Indonesia karakter atau kepribadian ini dikenal lewat buku Florence Littauer, Personality Plus. Keempat karakter yang dibingkai itu adalah “Koleris, Sanguin, Phlegmatic, dan Melancholic”. Selain itu, dalam psikologi masih ada model karakter lain seperti DISC yaitu “Dominan, Influence, Steadiness dan Compliant”. Juga ada tipe MBTI (Myers-Brigg Type Indicator) yang terdiri dari 16 matriks karakter.

Sepanjang hidup, karakter ini akan terus melekat dalam diri manusia. Hanya saja, kerapkali karakter-karakter itu berkomplikasi karena terdapat dalam diri seseorang sekaligus. Seorang Koleris bisa saja Compliant, dan sebagainya. Tidak selalu Koleris pasti Dominan juga, walau umumnya sih begitu.

Pengenalan karakter diri dan orang lain amat penting dalam pergaulan terutama dalam bisnis. Akan tetapi, banyak orang tak mau repot-repot melakukannya. Karena alasan yang sangat naif: “gue begini aja juga hidup kok.” Yeah, you right. Bahkan andaikata Indonesia tak punya Wakil Presiden pun matahari masih terbit kok esok hari.  (Tentu asal belum kiamat lho…).

Dan terkadang saya capek juga mencoba “menjaga hati” orang lain, sementara orang lain tidak mau repot-repot menjaga hati saya sendiri. Ini bukan curcol, tapi sekedar mengingatkan bahwa dalam diri seseorang terkandung kekompleksan termasuk karakter. Sedangkan karakter meski ada unsur turunan namun jelas bisa berubah.

Contohnya, ada orang yang sewaktu sekolah atau kuliah sangat tangguh dan gigih dalam mengejar cita-citanya. Namun, setelah menikah, ia ternyata kemudian menjadi pribadi berkarakter berbeda. Gelarnya bertambah menjadi Drs. alias Di rumah saja.

Dan kerapkali kita hanya minta dipahami tanpa mau memahami orang lain. Contoh konkret dari contoh di atas  (halah! curcol alert!) adalah seorang rekan kami yang kalau hendak ditelepon atau dihubungi susahnya minta ampun. Bahkan saat kami hendak memberi satu compliment gratis atau bahkan pekerjaan yang mendatangkan uang, ia minta ditelepon dan dijadwalkan jauh-jauh hari. Babar blas koyo menteri! Padahal kerjaannya ya cuma ibu rumah tangga biasa yang kebetulan bergelar S-2.  Beberapa kali berulang ya kaminya yang jadi malas menghubungi. Wong mau dikasih rezeki kok malah yang ngasih yang kayak ngemis tho?

Di situ ia memaksakan karakternya dimengerti tanpa mau mengerti karakter orang lain. Dan tentu saja tindakan itu tanpa disadarinya berefek negatif. Tidak cuma bagi nama baiknya, tapi kemudian juga bagi rezekinya kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s