Hari Anti Korupsi, Prita, Rizal & Media

Di tengah-tengah kehebohan Hari Anti Korupsi Internasional yang jatuh esok hari, ada dua berita “kecil” yang menyeruak perhatian saya. Tentu saja, saya tidak mengecilkan kemungkinan terjadinya demo besar esok hari, yang membuat sang presiden “himself” kuatir. Apalagi demo itu digagas oleh berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih (G.I.B.) dan sudah membuat Presiden mengeluarkan sinyalemen bahwa ada motif politik di baliknya. Akan tetapi, berita kecil yang membesar yang akan saya tuliskan ini juga sudah selayaknya mendapatkan perhatian. Kedua berita itu membuat sesuatu yang tadinya biasa saja menjadi luar biasa. Efeknya kemudian adalah membuat masalah lokal bahkan personal menjadi perhatian masyarakat luas.

Pertama adalah mengenai sosok biasa yang menjadi luar biasa karena pemberitaan media. Sosok itu adalah Prita Mulyasari. Kita tahu bahwa dialah sosok yang membuat heboh karena tindakannya memprotes pelayanan R.S. Omni International Tangerang melalui surat yang kemudian tersebar luas melalui e-mail. Entah bagaimana e-mail pribadinya kemudian tersebar luas sehingga membuat R.S. tersebut beserta dua orang dokter yang disebut di dalamnya merasa dicemarkan nama baiknya. R.S. tersebut pun menggugat Prita secara pidana dan perdata. Di pengadilan, Prita dua kali dikalahkan oleh penggugat. Oleh Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Prita diwajibkan membayar denda senilai Rp 314.286.360 pada 11 Mei 2009. Kedua belah pihak menyatakan banding. Pada 4 Desember 2009 lalu, Pengadilan Tinggi (PT)  Banten, kembali memvonis Prita bersalah. Namun, dengan mempertimbangkan asas keadilan publik, besaran ganti rugi itu diturunkan menjadi Rp 204.286.360. Keputusan ini kemudian menimbulkan reaksi masyarakat antara lain dengan membuat gerakan “Koin Untuk Prita”. Salah satu poskonya terletak di Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa No 60, Jatipadang, Jakarta Selatan. Perkara yang tadinya hanya personal Prita melawan institusi R.S. Omni International Tangerang dan 2 dokternya kini meluas menjadi gerakan publik. Masyarakat melalui media massa mempersonifikasikan Prita sebagai sosok rakyat yang tertindas oleh pihak yang memiliki kapital.

Berita kedua, pada hari Minggu (6/12) saya membaca berita di Kompas (bisa dibaca di sini) bahwa kawan lama saya J.J. Rizal yang sejak dulu getol “menjadi arca” dengan berprofesi sebagai peneliti sejarah digebuki polisi di Depok pada hari Sabtu (5/12) malam sebelumnya. Padahal, tak jelas salahnya apa. Berita yang mengutip pihak Polsek Beji menyebutkan yang bersangkutan dikira copet, namun sudah diakui salah tangkap. Seruan solidaritas menggema, bahkan di detik.com seorang dosen UI meminta agar Kapolres Depok dicopot. Ada pula gerakan para facebookers untuk mendukungnya. Lagi-lagi, sebuah kasus yang bermula dari masalah kecil karena kecerobohan aparat kepolisian membesar karena ekspose media. Dalam kasus ini pun terekspose perbedaan keterangan resmi antara Kapolsek Beji dan Kadiv Humas Mapolda Metro Jaya.

Media di sini memang bisa berfungsi sebagai sarana penekan. Apalagi, idealnya di sebuah negara demokrasi media merupakan “the fourth estate”. Artinya, ia merupakan pilar keempat setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sebagai pilar keempat ia merupakan “watchdog” atau anjing penjaga yang mengingatkan ketiga pilar lainnya. Akan tetapi itu adalah kondisi ideal, dimana dianggap media sebagai kelompok yang “bebas nilai”. Akan tetapi dalam realitasnya, media sama saja dengan elemen masyarakat lainnya, punya kepentingan sendiri. Dan dalam kondisi demikian, “trial by the press” sangat mungkin terjadi. Maka, selain menjaga independensi media, wawasan luas dari penikmat media perlu ditekankan agar tidak semua berita dilahap mentah-mentah. Apalagi, berita yang berasal dari penguasa yang gemar ber-retorika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s