Julia Roberts, Bali & Pariwisata Indonesia

Hari ini perhatian saya tertaut pada tulisan Dahlan Iskan di harian Indo Pos, salah satu koran jaringan Jawa Pos miliknya. Dalam catatannya yang berjudul ”Menteri Pariwisata Baru Kita: Julia Roberts!” itu menyentil bagaimana kinerja birokrasi dan pelaku industri pariwisata kita. Ia juga menyatakan Indonesia beruntung karena Bali dijadikan tempat shooting film Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Roberts. Film ini diangkat dari novel best seller  terbitan 2006 karya Elizabeth Gilbert yang di Amerika Serikat sana sempat menjadi perbincangan hangat para pencinta sastra. Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup penulisnya yang mencari ”jawaban” atas kegundahannya. Dan jawaban itu ia temukan di Bali.

Efek dari film itu yang diharapkan tentu saja adalah mata dunia kembali tertuju kepada Indonesia, tentu dari aspek yang positif. Karena selama ini apabila pemberitaan yang menjadi perhatian dunia internasional tentang Indonesia kalau tidak soal terorisme ya soal bencana. Nama Indonesia jarang disebut dengan kekaguman atau penghormatan. Dalam pengecualian yang cukup langka, tentu saja Indonesia baru akan dihormati saat memenangkan kejuaraan tertentu.

Apa yang ditulis Dahlan Iskan cukup menggelitik, karena ia menyatakan tidak mudah membujuk Hollywood untuk membuat film berlatar Indonesia. Ia mengatakan, saat Petronas Tower di Malaysia dijadikan setting film Entrapment (1999) saja, pemerintah Malaysia malah harus membayar kepada produsernya semata agar film yang dibintangi Catherin Zeta-Jones dan Sean Connery  jadi dibuat di sana. Dan kali ini Indonesia beruntung karena kali ini justru tanpa membayar kepada produsernya, mereka mau memproduksi film bersetting Indonesia, bahkan dibintangi aktris sekelas Julia Roberts yang sudah pernah memenangkan piala Oscar.

Nama Bali, sebenarnya sudah lama lebih dikenal daripada Indonesia sendiri. Nama pulau ini masuk dalam daftar tujuan utama wisata dunia. Akan tetapi, tampaknya pemerintah dari kabinet ke kabinet cenderung ’mengeksploitasi’ Bali tanpa menjadikannya sebagai batu penjuru bagi dunia pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Padahal, sebetulnya dengan banyaknya wisatawan yang datang ke Bali, bisa ditawari paket melancong ke daerah lain di Indonesia. Karena seperti kita tahu, negara kita adalah negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia. Maka, dari segi pariwisata seharusnya wisatawan akan mudah tertarik.

Namun, modal alam saja tidak cukup. Karena yang namanya pariwisata itu ya industri. Maka, ia harus dikelola dengan baik. Di tempat-tempat wisata minimal harus ada sarana dan prasarana memadai, terutama transportasi. Selama ini, banyak sekali tempat wisata di Indonesia yang dibiarkan ’seadanya’. Padahal, andaikata dikelola profesional, kalau perlu dengan melibatkan pihak swasta, jelas akan mendatangkan pemasukan tidak kecil. 
Barangkali langkah kecil perlu diayunkan, antara lain dengan menjalin hubungan baik dengan pelaku pariwisata dan hiburan internasional. Sehingga, kelak di kemudian hari akan banyak film-film dibuat di berbagai wilayah Indonesia. Dan tentu saja efeknya akan positif bagi promosi pariwisata kita. Tentu saja ini harus tetap diimbangi perbaikan di dalam negeri, termasuk keamanan yang memadai dan pengembangan sarana-prasarana itu tadi.
Foto: terraceatkuta com, diunggah di idntimes. Diunduh dari pencarian menggunakan google images.

 

One response to “Julia Roberts, Bali & Pariwisata Indonesia

  1. Ping-balik: Bangkok sudah, Jakarta kapan? « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s