KTT G-20 dan Posisi Indonesia

Pada tanggal 24-25 September 2009 lalu di Pittsburgh –sebuah kota kecil di negara bagian Pennsylvania-Amerika Serikat–sedang berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara G-20. Ini adalah gabungan dari negara-negara anggota G-8 yang semuanya merupakan negara maju dengan sejumlah negara lain dari kategori negara berkembang yang dipandang potensial. Dan Indonesia adalah salah satunya.

Keterlibatan Indonesia dalam forum bergengsi itu tentu saja menimbulkan rasa bangga. Namun, bangga saja tidak cukup. Karena kalau cuma begitu, kita semata akan jadi macan kertas belaka.

Posisi G-20 memang sangat strategis, karena hanya dari 20 negara anggotanya saja sudah menyumbangkan 90 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Meski Indonesia hanya menempati urutan keempat dari bawah dengan PDB sebesar 468 milyar dollar A.S, ini tidak mengurangi ‘gengsi’ kita karena dari kawasan Asia Tenggara hanya Indonesia yang masuk kelompok ekonomi utama dunia ini.

Tentu saja menjadi “kelompok elit” menyenangkan dan membanggakan. Akan tetapi muncul kekuatiran jangan sampai Indonesia semata cuma dijadikan legitimasi adanya perwakilan negara berkembang. Padahal, seperti pernah saya tulis, posisi Indonesia sebenarnya memang dipandang sangat strategis bagi negara maju terutama A.S. (klik di sini).

Hanya saja, memang sulit memainkan kartu diplomasi internasional di tengah suasana dalam negeri yang justru sangat fluktuatif. Sebuah negara baru bisa berkiprah di dunia internasional kalau ia mampu mengatasi masalah dalam negernya sendiri terlebih dahulu. Di sini harus diakui walaupun punya banyak kekurangan, sedikit-banyak pemerintahan SBY relatif berhasil menciptakan suatu kestabilan di dalam negeri. Karena itu peran Indonesia di kancah diplomasi internasional kembali dimainkan.

Membaca hasil-hasil Pittsburgh Summit 2009, sebagai bangsa Indonesia harus mampu menempatkan dirinya sebagai “wakil” dari negara berkembang yang dipandang penting. Keminderan, ketakutan, atau malah perasaan tidak mampu harus dihilangkan. Bagaimanapun, negara-negara maju anggota G-8 yang menggagas forum G-20 ini telah mempertimbangkan masak-masak mengapa Indonesia diundang serta dalam kelompok elite ini. Salah satunya tentu karena faktor sumber daya manusia kita yang melimpah, sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Maka, sudah selayaknya kita memainkan kartu diplomasi yang dimiliki dengan arif. Penduduk yang besar misalnya, tidak hanya pasar potensial bagi produk negara maju, tapi juga sebenarnya tenaga kerja yang luar biasa untuk dioptimalkan. Belum lagi kartu sumber daya alam kita yang kaya dan melimpah. Sayangnya, banyak orang yang justru melecehkan kemampuan bangsa sendiri dengan membuat  berbagai aktivitas yang merusak citra bangsa, sehingga kartu diplomasi internasional kita menjadi kurang efektif. Salah satunya ya para teroris tak tahu diuntung itu, yang telah membuat upaya pemerintah membangun citra keamanan menjadi terhambat. Sebagai warga negara biasa, apa yang bisa kita lakukan adalah mendukung upaya Indonesia menjadi pemimpin negara dunia ketiga seperti peran yang dulu pernah dimainkan dengan baik oleh Soekarno dan Soeharto.

3 responses to “KTT G-20 dan Posisi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s