Sahur, Puasa & Kesehatan

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Dari ‘Amr bin Al-‘Ash radiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Yang membedakan puasa kami (orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”

(HR. Al-Imam Muslim dan lainnya)

Dari hadits di atas, kita tahu bahwasanya tidak hanya orang muslim yang berpuasa. Para ahli kitab yaitu Yahudi dan Nasrani pun disyariatkan untuk berpuasa. Sebagai agama yang memiliki mata rantai yang sama-sama berasal dari Ibrahim (Abraham), tentu tidak heran kalau ketiga agama mengenal puasa sebagai khazanah ibadahnya. Akan tetapi, ternyata detail pelaksanaannya berbeda. Dan salah satu perbedaan yang utama adalah makan sahur.

Makan sahur ini ringan dan mudah, tapi seringkali diabaikan. Ada yang karena alasan kebiasaan, namun ada juga yang karena malas bangun semata. Apalagi, di Indonesia banyak yang tidak memiliki pola makan teratur. Sehingga, tidak makan sahur namun tetap puasa seolah hal biasa.

Anda yang sering mendengarkan ceramah agama pasti sudah tahu hikmah makan sahur. Kalau dari segi kesehatan jelas makan sahur sangat penting karena setelahnya kita akan berpuasa antara 7-14 jam, tergantung sedang berada di belahan bumi mana kita saat berpuasa. Apalagi buat yang memiliki masalah pencernaan termasuk maag seperti saya, makan sahur mutlak dilakukan kalau masih mau berpuasa. Belum lagi hikmah lain seperti berkumpulnya keluarga termasuk mendapatkan pahala dan keberkahan karena mereka yang makan sahur dido’akan malaikat yang turun ke bumi di waktu sahur hingga fajar.

Jika sahur menjadi sebuah anjuran atau sunnah mu’akaddah bagi puasa Ramadhan, bagaimana dengan puasanya sendiri? Apa yang istimewa dari puasa ini? Dari unsur kesehatan, Anda tentu sudah dengar manfaatnya. Namun, sayangnya, manfaat itu tidak langsung terasa. Apalagi bagi kita di Indonesia yang terbiasa dengan kehidupan yang campur-aduk. Manfaat berpuasa tidak hanya tidak terasa bagi yang non-muslim karena jelas tidak wajib, bahkan juga bagi yang muslim.

Karena manfaatnya terasa abstrak, maka banyak pula yang memilih tidak melaksanakan ibadah puasa ini. Manfaat puasa memang lebih terasa bagi yang memiliki iman. Karena bila alasannya semata kesehatan seperti memberi waktu hibernasi bagi sistem pencernaan, akan lebih mudah diabaikan. apalagi bila yang bersangkutan merasa memiliki uang cukup banyak  sehingga kesehatan mudah diakses. Manfaat abstrak dari segi peningkatan iman termasuk pula meningkatnya kesabaran, kepedulian pada kesulitan orang lain, kemampuan mengendalikan diri dan tentunya kepatuhan kepada Tuhan. Hal terakhir ini menurut saya paling penting karena puasa disebutkan merupakan ibadah rahasia. Hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu mengenai ibadah ini karena tidak terlihat. Bisa saja seseorang mengaku puasa bahkan ikut sahur bersama keluarga di rumah tapi sesampainya di kantor ia malah ngopi lagi.

Dengan demikian, meski melibatkan fisik berupa tidak dibolehkannya makan dan minum selama siang hari, namun ibadah puasa sebenarnya ibadah mental. Karena apa yang kita lakukan sebenarnya tidak ada gerakan ibadah secara fisik seperti halnya shalat. Maka, puasa sebenarnya lebih melatih kesehatan mental daripada kesehatan fisik. Karena itu, melaksanakan makan sahur sebagai bentuk kegiatan fisik juga semestinya lebih dimaknai sebagai bentuk ketaatan iman secara mental kepada anjuran Nabi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s