Kesempurnaan: 090909 dan 99

asmaaulhusna

Sebagai manusia, kita selalu merindukan kesempurnaan. Dunia ideal, menurut Plato, merupakan asal-muasal manusia. Karena itulah manusia sepanjang hidupnya selalu merindukan kesempurnaan atau dunia ideal tadi. Sementara bagi Aristoteles, malah Eudaimonia (εὐδαιμονία) sejatinya merupakan tujuan hidup manusia. Kata bahasa Yunani ini arti harfiahnya adalah kebahagiaan.

Apakah kesempurnaan identik dengan kebahagiaan?

Kita masuk problema baru dengan mempertanyakan hal ini. Sebab ada perbandingan antara dua konsep abstrak.

Oleh karena itu marilah kita permudah dengan lebih dulu memahami pengertian masing-masing. Konsep kesempurnaan sebenarnya bisa dipahami dengan negasinya, yaitu ketiadaan cacat. Sempurna sendiri merupakan bentuk atau kondisi yang dipahami sebagai paling, tapi bukan superlatif. Karena di atasnya masih ada Maha Sempurna yang dipahami hanya sebagai milik Tuhan. Dalam bahasa Arab, ومعظم الكمال, dimengerti sebagai ungkapan yang sangat jarang dipakai sehari-hari karena kata itu hanya milik Tuhan. Bahkan, dalam Al-Qur’an sifat ke-Maha Sempurna-an Tuhan lebih sering digambarkan sebagai “Dia yang berbeda dari semua makhluk-nya”, atau “Dia yang tidak dapat diserupakan dengan apa pun.”

Sementara kebahagiaan adalah situasi hati secara psikologis yang mengalami kegembiraan mutlak mengatasi segala perasaan emosional lainnya secara terus-menerus. Patut dicatat kedua pengertian di atas adalah menurut bahasa saya sendiri secara subyektif. Kebahagiaan seringkali dikelirukan dengan kegembiraan. Padahal, kebahagiaan adalah kondisi superlatif dari kegembiraan. Ada perbedaan durasi waktu juga bahwasanya kegembiraan, seperti juga kesenangan, adalah sesaat. Sementara kebahagiaan lebih menetap malah diidealkan sebagai terus-menerus.

Dalam hidup, sebenarnya banyak sekali orang yang dianugerahi kesempurnaan, namun mereka ternyata tidak kunjung mencapai kebahagiaan. Karena di antara dua konsep abstrak itu ada konsep lain sebagai jembatan penghubung: syukur.

Kata “syukur” inilah yang kerap dilupakan orang-orang yang dianugerahi kesempurnaan. Bahkan tindakan melupakan ini kerap diejawantahkan menjadi lupa pada Sang Maha Sempurna. Menolak untuk menyembah dan melaksanakan perintah-Nya. Padahal, di atas langit masih ada langit. Dan di atas langit tertinggi itulah bertahta Tuhan: Sang Maha Sempurna. Dialah Sang Pemilik 99 nama yang mahaindah: Asmaul Husna.

Sehingga, dengan demikian belum tentu orang yang mendapatkan kesempurnaan bisa meraih kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan kepenuhan rasa syukur. Segala penanda juga tidak bisa menjadi jaminan kebahagiaan. Seperti halnya hari ini yang ditandai banyak orang sebagai hari istimewa yang malah dianggap pertanda kesempurnaan karena kekembaran angkanya: 090909. Namun melakukan sesuatu sebagai penanda hari ini belum tentu akan bisa menggapai kesempurnaan, apalagi kebahagiaan. Semua hanya bisa dicapai dengan syukur pada segala nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Fa bi ayyi alla irabbikuma tukadziban?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s