Indonesia & Kepentingan

Di tengah kegembiraan bangsa Indonesia pada pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, terbetik berita duka jatuhnya pesawat NOMAD milik TNI AL. Belum lagi ekses gempa di Jawa Barat. Saya tidak akan masuk ke pokok pembahasan kedua berita tersebut, melainkan membahas mengenai negeri kita dan kepentingan yang bermain di dalamnya.

Saya pernah menulis bahwa negeri kita ini besar dan kaya, sehingga sebenarnya banyak pihak yang merasa berkepentingan untuk memanfaatkannya. Tidak terkecuali negara-negara maju termasuk Amerika Serikat. (klik di sini). Hanya saja, sebagai bangsa besar dan kaya, kita justru kerap dikecilkan dan dimiskinkan. Sebenarnya semua itu cuma permainan kepentingan belaka.

Saya tahu, mengurus bangsa tidak semudah mengurus RT. Memajukan ekonomi bangsa tidak semudah bermain monopoli atau cashflow game. Karena itu hal yang seolah terlihat mudah saat dibicarakan, dituliskan atau dibahas sebenarnya merupakan hal yang sangat sulit saat harus diimplementasikan.

Penduduk yang sekitar 220 juta, rantai birokrasi yang panjang, mental priyayi yang melekat pada sebagian besar aparat birokrasi termasuk aparat keamanan membuat penanganan berbagai masalah menjadi makin sulit. Bahkan perintah Presiden pun menjadi amat mungkin tidak dilaksanakan atau tidak sampai ke jajaran pelaksana karena halangan tersebut.

Segala kesulitan tersebut makin bertambah parah saat kondisi riil perekonomian bangsa kita masih carut-marut. Sangat ironis sebenarnya karena kondisi bangsa kita sebenarnya sangat kaya. Bangsa kita bak anak ayam mati kelaparan di lumbung padi atau ikan mati kehausan di dalam air.

Di tahun 1998 majalah Time sempat dituntut oleh keluarga Soeharto karena menulis soal Soeharto Inc. Padahal, terlepas dari segala keburukan sistem otoriterianisme yang diterapkannya, keberhasilan pembangunan yang dicapai memang nyata. Kendali pemerintah terhadap berbagai masalah sangat kuat, sehingga tidak terdapat upaya insubordinasi.

Pasca Orde Baru, bahkan perintah dari seorang menteri pun bisa diabaikan oleh gubernur. Ingat kasus sengketa penggusuran stadion Persija yang kemudian diubah jadi Taman Menteng? Saat itu Menpora Adhyaksa Dault merasa dilangkahi oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Namun Sutiyoso tak peduli dan terus melangkah. Hal itu bisa jadi karena memang adanya wewenang yang tumpang-tindih. Sehingga, wewenang gubernur malah bisa jadi melampaui seorang menteri. Hal itu bisa jadi tergantung kepentingannya.

Padahal, perang kepentingan antar pihak dalam memanfaatkan negeri ini itulah yang kerap membuat rakyat menderita. Dalam soal ini rasanya slogan “demi bangsa atau rakyat ” cuma omong kosong belaka. Saya sendiri terkadang merasa frustrasi mengapa sulit bagi bangsa kita untuk menyatukan dan menomorsatukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sampai-sampai dalam kasus konflik dengan negeri tetangga saja suara yang keluar tidak seragam.

Untunglah, kita masih mendapatkan pengakuan dunia internasional akan berbagai hal yang memang menjadi hak milik bangsa. Misalnya batik tadi. Alangkah hebatnya bangsa kita bila tidak ribut bertikai di dalam sendiri untuk memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri maupun golongannya. Sampai-sampai untuk urusan pembelaan TKI saja Anwar Ibrahim malah lebih lantang bersuara daripada para pejabat terkait di Indonesia. Duh!

One response to “Indonesia & Kepentingan

  1. Ping-balik: KTT G-20 dan Posisi Indonesia « LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s