Survei & Ramalan Politik

Saya terkejut membaca berita tentang survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang elektabilitas ketiga pasangan capres-cawapres (berita baca di sini). Masalahnya, angka yang diklaim LSI sebagai tingkat keterpilihan yang katanya berdasarkan hasil survei tersebut persis sama dengan angka yang saya dapatkan dari sumber dan telah saya tuliskan beberapa hari lalu (baca di sini). Bagaimana angka tersebut bisa sama persis?

Tentu saja, survei berbeda dengan ramalan. Ini merupakan metode untuk mengetahui pendapat masyarakat yang dilakukan dengan berdasar pada ilmu statistik. Survei dilakukan dengan macam-macam tujuan, tergantung untuk apa kelak survei tersebut dilaksanakan.

Meski sejatinya semua lembaga survei pasti berhati-hati dalam melakukan penentuan dan pengumpulan sampel dalam populasi, namun siapa pihak yang mendanai riset atau survei pasti juga berpengaruh terhadap hasil. Sebuah survei bisa dibuat untuk ‘menyenangkan’ pemesannya. Namun yang saya lihat di Indonesia ada gejala menjadikan survei seperti ramalan.

Sebenarnya, ramalan yang di Indonesia tidaklah tabu. Cuma di Indonesia kata “ramalan” memang bernuansa mistik. Padahal, dalam bahasa Inggris ramalan mistik dan ilmiah dibedakan. Ramalan ala mistik yang bersumber dari intuisi dalam bahasa Inggris adalah “prophecy”, sementara ramalan yang bersifat ilmu pengetahuan dengan dasar yang bisa dipertanggungjawabkan adalah “forecasting”. Di sini, ramalan dari survei tentunya termasuk ke dalam forecasting.

Nah, dalam politik, menentukan siapa bakal pemenang dari survei memiliki efek bias. Artinya, pemilih yang tadinya masih ragu bisa terpengaruh pada hasil survei dan memilih yang menang menurut survei. Ini merupakan sifat khas manusia, ingin menang dan bergabung dalam group pemenang sebagai peer-group yang dirasa paling aman.

Di sisi lain, indikasi ‘pengaturan’ terasa kuat karena sewaktu Pemilu 2004 dan 2009 lalu ada lembaga survei yang mengiklankan diri sebagai lembaga ‘peramal’ paling tepat. Apalagi, ada mekanisme ‘quick count’ yang mendahului hasil resmi. Angka hasil ‘ramalan’ survei dengan hasil nyata penghitungan suara yang hanya berbeda dalam digit angka di belakang koma begitu hebatnya.

Saya lantas iseng bertanya, kenapa lembaga survei macam ini tidak bergerak saat akan dilakukan jajak pendapat atau referendum di Timor-Timur tahun 1999 lalu? Dengan demikian, maka lepasnya Timtim sudah bisa diprediksi dan Indonesia bisa berjuang terus di Majelis Umum PBB alih-alih menyetujui jajak pendapat. Atau lembaga macam ini baru bergerak kalau ada yang mendanai? Seperti halnya pengakuan LSI bahwa survei tersebut dibiayai Fox Indonesia, lembaga konsultan pasangan capres-cawapres SBY-Boediono yang diuntungkan oleh hasil survei mereka.

(oleh Bhayu M.H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s