Ranah Publik vs Ranah Privat

Di era post-modern atau ada pula yang menyebut web 2.0 ini, ranah publik seakan menyempit. Apalagi ada situs yang menyediakan sarana untuk menampilkan diri, mulai dari blog hingga jejaring sosial semacam FS atau FB. Tapi herannya, ada yang menganggap, publikasi diri di situs itu berarti orang lain masuk ke ranah privatnya. Lho, kalau memang tidak mau dikenal orang lain, ya tidak usah ikut saja tho?

Tindakan ini misalnya tampak dari ketidakmauan meng-approve orang yang tidak dikenalnya di dunia nyata. Memang, itu hak tiap orang. Tapi kalau takut informasi pribadi yang tidak perlu diketahui umum tersebar luas, ya jangan ditampilkan informasinya dong. Penampilan diri sebagai pribadi lain atau anonim sangat dimungkinkan di dunia maya. Ada pula yang sudah masuk sebagai member di situs jejaring sosial atau milis, tapi tidak bisa terbuka terhadap pikiran atau pendapat lain. Bahkan ada yang menganggap serius segala macam komentar di dalam situs-situs itu. Sampai-sampai –menurut Kompas– ada yang bercerai cuma gara-gara komentar yang dianggap mesra terhadap status pasangannya di FB. Halah! Tidak dewasa sekali!

Kalau saya, kriterianya jelas, asal ada foto dan yang bersangkutan mencantumkan identitas jelas, pasti saya approve. Toh tidak ada informasi apa pun di dalam FB saya yang bisa dipakai untuk menyerang saya di dunia nyata. Walau tentu kita harus tetap hati-hati seperti pernah saya tulis di sini.

Saya lantas teringat tulisan Samuel Mulia di rubrik ”Parodi” yang dimuat harian Kompas edisi Minggu (12/4) kemarin. Di situ, ia mengetengahkan diri sebagai pribadi yang tidak takut ”rahasia pribadi”nya masuk ke ranah publik. Apalagi, baginya saat seseorang menjadi figur publik, ia harus rela masalah pribadinya juga menjadi sorotan orang lain. Tentu saja, di sinilah sulitnya menjadi termasyhur. Karena orang selalu ingin tahu apa yang terjadi pada figur-figur publik itu. Makanya, figur-figur publik itu selalu berupaya menjaga ”image” atau citra di depan publik. Dan meski ia sendiri tidak menganggap dirinya figur publik, toh lingkup pergaulan dan pengalaman penulisnya ternyata ia sudah bisa dikategorikan figur publik pula. Apalagi ia punya kolom khusus tiap pekan di harian beroplah terbesar di negeri ini.

Nah, bagi saya yang tidak termasyhur apalagi bukan figur publik, tentu saja ranah privat saya jauh lebih luas daripada figur publik. Saya, seperti halnya Samuel Mulia, tidak merasa ada yang salah dengan kehidupan saya, di waktu lalu maupun sekarang. Artinya, andaikata saya jadi figur publik, dan andaikata pun ada sesuatu yang dianggap tidak sesuai norma kepatutan umum, selama tidak melanggar hukum, kan tidak perlu malu? Karena apa yang pantas buat satu orang, belum tentu pantas buat orang lain kan? Misalnya dalam tulisan Samuel Mulia ia mengaku terhenyak saat seorang caleg menganggap masalah poligami adalah ”masalah pribadi yang tidak pantas dibawa ke ranah publik.” Padahal, sebagai figur publik tentu saja masalah poligami pantas diketahui umum. Sebabnya, sebagai caleg itu kemudian terkait dengan bagaimana ia akan menghidupi istri-istrinya itu yang pastinya menghabiskan uang lebih banyak daripada cuma satu istri saja. Jangan sampai dengan alasan tanggungan lebih banyak ia merampok harta rakyat yang diamanahkan padanya. Lagipula, poligami seharusnya tidak melanggar hukum apa pun bukan? Cuma norma kepantasan saja yang terasa dilanggar.

Nah, dengan begitu, semestinya kita bisa makin mudah menerima perbedaan. Kalau ranah privat kita sempit, kita akan bisa memandang orang lain dengan pandangan lebih luas. Karena memang dunia ini luas, buat apa menutup diri kan?

(oleh: Bhayu Mahendra H.; diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

One response to “Ranah Publik vs Ranah Privat

  1. iyah benar.. klo mau join situs pertemanan harus sudah mempersiapkan public profile!!!

    tapi klo mau reject fren request, gpp donk mas! kalo saya bukan karena takut infonya diketahui, kok.. 🙂

    slm kenal yah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s