Krisis & Suksesi

Setelah pekan lalu kita melaksanakan Pemilu yang kerap disebut-sebut sebagai pesta demokrasi, ternyata di negara-negara tetangga kita pun sedang bergejolak karena permasalahan suksesi. Kita sama-sama membaca berita bahwasanya East Asian Summit terpaksa dibatalkan karena di negara penyelenggaranya yaitu Thailand demonstrasi massa besar tengah berlangsung. Massa menuntut agar Perdana Menteri Thailand saat ini Abhisit Vejjajiva mundur sekaligus diadakannya pemilihan ulang. Sementara di negara yang sering disebut sebagai negara jiran kita yaitu Malaysia, Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi pun harus menyerahkan tahtanya karena terus-menerus digoyang.

Sekadar mengingatkan, krisis di Thailand terjadi karena PM Thaksin Sinawatra dipaksa mundur karena dituduh terlibat skandal korupsi. Thaksin pun dikudeta oleh militer Thailand pada tahun 2006. Setelah kudeta, raja Thailand Bhumibol Aduljadev memberikan restu atas aksi suksesi paksa itu. Persiapan Pemilu kemudian digelar. Saat Pemilu berlangsung, ternyata Thaksin masih kuat, ini dibuktikan dengan kemenangan Partai Kekuatan Rakyat yang dipimpinnya dalam Pemilu. Meski tidak kembali berkuasa, namun PM Samak Sundaravej akhirnya dituding sebagai boneka Thaksin dan dipaksa mundur oleh pengadilan setelah terjadi demo massa Aliansi Rakyat untuk Demokrasi. Ia lalu digantikan oleh PM Somchai Wongsawat. Pada Desember 2008 partai Somchai diputuskan bersalah oleh pengadilan melakukan kecurangan Pemilu sehingga ia harus mundur dari jabatannya. Abhisit kemudian terpilih sebagai PM baru setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen. Praktis, ia baru sekitar empat bulan menjabat saat demonstrasi massa kembali menggoyang jabatan PM Thailand yang panas itu.

Sementara di Malaysia PM Abdullah Ahmad Badawi di tahun 2003 mendapatkan kekuasaannya sebagai akibat dari pengunduran diri PM Mahathir Mohamad. Sebagai Deputi PM, otomatis ia naik tahta. Ini serupa dengan proses naiknya Megawati Soekarnoputri Taufik Kiemas menjadi Presiden RI setelah Abdurrahman Wahid dipaksa mundur oleh MPR. Bedanya, di Malaysia PM Mahathir mempersiapkan suksesinya kepada Badawi secara damai. Meski sebelumnya kekuasaannya sempat goyang karena adanya perlawanan dari Deputi PM yang dipecat dan dipenjarakannya yaitu Anwar Ibrahim. Anda pasti masih ingat bahwa kejadian tersebut berdekatan dengan lengsernya Soeharto dari tampuk kepresidenan Indonesia. Sehingga saat itu Malaysia pun dilanda aksi demonstrasi jalanan terbesar sepanjang sejarahnya.

Saat Badawi naik, ternyata kepiawaiannya diragukan. Sehingga, tak kurang dari Mahathir sendiri ikut menggoyangnya. Sebagai akibat goncangan itu, UMNO (United Malays National Organization) sebagai partai berkuasa di Malaysia mengalami defisit suara terbesar saat diadakan Pemilu parlemen tahun 2008 lalu. Ini berakibat kecaman makin besar kepada Badawi. Sebagai Ketua UMNO, kegagalan Badawi mempertahankan dominasi partai itu tentu sangat menyengat. Meski sempat dilantik sebagai PM untuk masa jabatan kedua dua hari pasca hasil Pemilu diumumkan, toh keraguan terhadap kepemimpinan dirinya di UMNO dan sebagai PM terus mengemuka.Hingga akhirnya kita sama-sama tahu ia mengundurkan diri pada 2 April 2009 lalu.

Dari kejadian di negara tetangga itu, kita tahu bahwa krisis yang terjadi di suatu negara biasanya akan berekses pada suksesi atau pergantian kepemimpinan. Ini karena rakyat menjadi gelisah pada keadaan. Dan yang saya amati di Indonesia, kerapkali seharusnya krisis itu tidak perlu terjadi, tapi terjadi karena dikondisikan begitu. Sebutlah krisis dalam konversi penggunaan kompor minyak tanah menjadi gas bagi rumah tangga. Kelangkaan minyak tanah yang terjadi adalah karena penyetopan distribusi oleh Pertamina guna memaksa rakyat beralih ke gas. Celakanya, infrastruktur penyediaan gas sendiri belumlah siap. Sehingga, rakyat mengalami krisis bahan bakar.

Tentu saja, saya tidak hendak berspekulasi apakah itu krisis itu merupakan pengkondisian atau langkah awal menuju hal lebih besar atau semata memang karena keadaan tak terhindarkan sebagai imbas –katakanlah- situasi internasional. Akan tetapi, di sisi ini kita musti menyadari bahwa setiap kali rakyat tidak dipuaskan kebutuhannya, krisis akan melanda. Dan bila krisis tak teratasi, suksesi hampir pasti terjadi. Itulah yang bisa kita pelajari dari situasi kiwari di negara tetangga kita.

(oleh Bhayu Mahendra H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s