Lain Ladang, Lain Ilalang

LifeLearner pasti tahu makna dari ungkapan tersebut. Pepatah lain yang mirip maknanya dengannya adalah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Di situ terkandung makna, hormatilah aturan, adat-istiadat dan kebiasaan di mana pun kamu berada. Karena semua itu pasti berbeda antara satu tempat dengan tempat lain. Makanya “lain ladang, lain ilalang, lain lubuk, lain ikannya.”

Saya pun berusaha begitu. Bagi orang lain, saya tergolong keras karena memegang prinsip bahwa segala sesuatu harus jelas hitam di atas putihnya. Masalahnya, pengalaman hidup orang berbeda-beda. Saat saya mencoba mentolerir prinsip saya sendiri, saya malah dikadali dan berkali-kali nyaris jadi korban penipuan. Sebagai contoh, pernah satu kali saya mendapat order dari perusahaan besar yang asetnya saja trilyunan. Saya percaya saja menjalankannya, tapi ternyata waktu pembayarannya mulur sampai 4 bulan lamanya. Sudah begitu, kami mendapat fitnah dan teror macam-macam pula dari staf perusahaan itu dan antek-anteknya gara-gara kami menerima order yang dianggap tanpa prosedur yang benar. Padahal di awal, saya sudah mengantisipasi dengan menanyakan prosedur hukum bakunya dan dijawab oleh staf perusahaan tersebut tidak perlu formal karena waktunya mepet. Saat kami mendapat order dengan pelaksanaannya di luar kota cuma berjarak dua hari saja. Dan kamilah yang kena batunya sampai saya harus berkonsultasi dengan lebih dari satu rekan pengacara saya sekaligus menyiapkan penasehat hukum dan ‘backing’ untuk bersiap-siap menghadapi perusahaan besar itu.

Untuk proyek tersebut kami memang mendapatkan rekomendasi dari rekan saya yang bekerja di perusahaan tersebut, akan tetapi rekan saya bukan yang berwenang memutuskan. Jadi, sejatinya rekomendasinya bisa ditolak kan? Walau begitu, rekan saya yang merekomendasikan pun sampai harus mundur dari perusahaan tersebut karena difitnah mendapatkan komisi dan melakukan nepotisme. Untungnya Tuhan menolongnya karena cuma dalam hitungan satu hari setelah resign ia sudah ‘dibajak’ perusahaan lain, tentu dengan gaji dan jabatan lebih tinggi. Immanuel. Tuhan bersama kita, demikian ujar teman saya yang Nasrani itu begitu mendapatkan berkah. Allahumma ana wa antum. ALLAH bersama saya dan anda, saya pun menjawab.

Cuma, repot dan tegangnya itu lho, yang nggak nulung. Apalagi terornya benar-benar menyebalkan, sampai fisik ke depan pintu kantor. Saya sampai harus siap-siap menghubungi Ketua Umum DPP FBR yang merupakan karib bapak saya, setelah menyewa ‘petugas keamanan’ lokal untuk menjaga kantor saya. Duh! Semoga tak akan terulang lagi hal semacam itu. Aamiin.

Dan sekarang saya makin berhati-hati untuk urusan yang terkait soal legal semacam itu. Makanya saya heran, ketika masih ada saja orang yang merasa tak perlu menghormati langit dimana ia memijak buminya. Saya baru saja mengalami hal ini beberapa waktu lalu saat ada seorang teman meminta bergabung dengan salah satu usaha saya sebagai semacam kontributor. Tapi ia menolak menandatangani perjanjian kerjasama dengan alasan “aneh” dan “ribet”. Lucu juga. Ia hendak masuk ke rumah saya, tapi tidak mau menuruti aturan di rumah saya. Lho, yang punya rumah siapa? Kan kalau kita masuk rumah tetangga ya normalnya kulonuwun atau sampurasun begitu. Begitu di-monggo atau rampes-kan baru masuk. Apabila tetangga punya aturan lepas alas kaki saat masuk rumah, ya kita lepas tho? Masak mau maksa pakai alas kaki di dalam rumah tetangga?

Saya bukan orang sempurna. Karena menyadari itu saya membuat rambu-rambu. Ini untuk menghindari dampak negatif karena terkadang saya ceroboh. Apalagi ini Indonesia. Negeri dengan sistem hukum hwaladalah. Wong di pengadilan saja bisa bilang lupa untuk transfer uang milyaran –ingat kasus Buloggate dsb?-, lah gimana kalau cuma receh seperti yang masih saya hadapi? Makanya, untuk rumah saya, saya buat pagar serapi mungkin. Selain tidak ingin ada wong gendheng sampai pencoleng masuk, saya juga tidak ingin ayam yang saya besarkan sedari masih pithik nyelonong ke halaman tetangga atau malah jadi bonyok terlindas mobil. Begitu…

(Bhayu Mahendra H.; diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s