Clean Desk Policy

Kalimat ini bukan asli berasal dari H.B. Supiyo, hanya saja saya menjadi teringat lagi salah satu kebijakan dalam manajemen kantor ini saat ia membicarakannya. Clean -atau terkadang disebut clear- desk policy sesuai namanya adalah satu kebijakan yang terkadang diimplementasikan dalam bentuk aturan agar meja kerja karyawan selalu dalam kondisi bersih. Sebenarnya, kebijakan ini lebih dimaksudkan bukan untuk kebersihan, tapi keamanan. Tujuannya, dokumen kantor dan identitas si pemilik meja tidak dicuri oleh orang lain, saat ia meninggalkan mejanya. Karena bila meja kerja tersebut berantakan, bisa jadi ada dokumen atau identitas tertinggal di atasnya. Bahkan mungkin komputer pun dibiarkan menyala. Di Inggris, menurut The Home Office pencurian identitas ini telah membebani perekonomian negara itu sebesar £ 1,72 milyar atau setara 25,8 kuadliun rupiah. Ini bahkan lebih besar dari APBN kita. Meski terkesan sederhana, namun membersihkan meja tidak semudah dikira. Banyak dari kita yang terlalu dipusingkan oleh rutinitas. Lebih daripada itu, sebagian terbesar manusia memang hanya memiliki kemampuan linier atau hanya bisa berpikir lurus. ini berakibat hanya satu jenis pekerjaan yang mampu dikerjakan pada satu waktu saja. Akibatnya, tumpukan barang tak berguna di atas meja kerja termasuk dokumen kantor perlu waktu khusus untuk membersihkannya. Bila kebijakan ini diterapkan sebagai aturan, saat pegawai pulang tidak diperbolehkan meninggalkan kertas atau dokumen apa pun di atas meja. Diharapkan ia menaruhnya di laci atau loker terkunci yang disediakan perusahaan. Ini menghindari diambil atau dibuangnya dokumen penting oleh bagian kebersihan atau cleaning service. Dengan kebijakan ini, diharapkan karyawan juga mengurangi penggunaan kertas. Ini selain menyampah, juga berarti mendukung pelestarian lingkungan. Karena tiap kertas berasal dari pohon yang ditebang. Selain dokumen hukum yang harus dicetak, diharapkan dokumen lain disimpan secara elektronik. Manfaat lain dari meja kerja yang bersih adalah mudah ditemukannya kembali dokumen atau benda lain saat diperlukan. Di meja kerja yang berantakan, mencari sebuah surat saja bisa makan waktu berjam-jam. Tentu akan berbeda bila semuanya teratur. Memang, ada orang yang merasa bisa bekerja dalam suasana berantakan. Masalahnya, bila ia tidak di tempat dan ada orang lain yang harus mencari sesuatu di meja kerjanya, orang lain itu pasti akan kesulitan. Di sisi lain, secara mentalitas psikologis, clean desk policy juga bisa berimplikasi pada kebiasaan “tinggalkan pekerjaan di kantor”. Artinya, karyawan pulang ke rumah tanpa membawa pekerjaan kantor. Sehingga, ia punya lebih banyak waktu luang untuk keluarga dan dirinya. Dengan meninggalkan pekerjaan di kantor, pikirannya akan bersih sebersih mejanya. Ini yang justru lebih ditekankan Pak Piyo saat saya bertemu dengannya. Tapi ini sulit, apalagi bagi tipe workaholic seperti saya. Tentu saja, saya bisa meninggalkan pekerjaan di kantor saat keluar kantor untuk berlibur atau bersantai. Tapi akan sulit dong buat orang yang tidurnya saja di kantor seperti saya untuk meninggalkan pekerjaan. Wong jalan beberapa langkah saja dari kasur lipat sudah ketemu pekerjaan kok. Hehe.

(Bhayu Mahendra H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s