Marketing & Selling

Dalam praktek di Indonesia, kerapkali terjadi kerancuan dalam menggunakan peristilahan yang sebenarnya berbeda secara esensial. Salah satunya adalah peristilahan marketing dan selling. Sebenarnya, marketing atau pemasaran lebih besar daripada sekedar selling atau penjualan. Mungkin banyak di antara LifeLearner yang sudah tahu. Tapi dari pengalaman saya menyeleksi pelamar calon tenaga kerja, ternyata banyak yang belum tahu. Ketidaktahuan ini lantas dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk merancukan pengertiannya. Pertimbangannya sangat praktis dan pragmatis. Karena banyak orang yang merasa tidak berbakat berjualan, maka istilah tenaga penjual atau sales pun dikaburkan. Maka, dalam iklan lowongan pun kerap dipakai istilah pengganti seperti : marketing staff, marketing executive, account executive, telemarketing, management trainee, hingga business development alih-alih salesman/girl atau sales executive. Tentu saja, tidak semua perusahaan yang membuka lowongan dengan posisi tersebut bermaksud ‘menipu’. Makin besar dan terkenal perusahaannya, makin terpercaya iklan lowongannya. Namun, pelamar musti waspada terhadap perusahaan yang menyebut dirinya sebagai: “Kami, perusahaan finansial yang sedang berkembang” atau semacamnya tanpa menyebut nama perusahaan dan alamat atau data yang bisa dicek.

Marketing terkait dengan banyak aspek. Bauran pemasaran atau marketing mix saja terdiri dari 4 aspek: product, price, place, promotion. Dan jelas bukan cuma jualan saja. Karena marketing terkait strategi perusahaan secara keseluruhan. Mereka yang bekerja di bidang marketing tidak bertugas meningkatkan penjualan an sich, tapi justru mengedepankan policy perusahaan dalam percaturan bisnis.

Dalam marketing, perusahaan menyediakan dana untuk melakukan upaya pemasaran. Akan tetapi, selling seringkali justru merupakan upaya dasar atau malah satu-satunya dari perusahaan untuk meraih pemasukan. Dan di Indonesia, tenaga penjual kerapkali tidak dibekali pengetahuan mendasar dan perlengkapan memadai. Mereka cuma disuruh menjual produk perusahaan dengan dibebani target penjualan tinggi. Tak jarang tenaga penjual sama sekali tidak digaji, hanya diberikan komisi dari persentase tiap produk yang terjual. Kondisi inilah yang membuat banyak pelamar enggan jadi tenaga penjual. Dan itu disiasati dengan iklan lowongan akal-akalan.

Saya tidak tahu, mengapa di Indonesia asosiasi profesional tampaknya tidak berperan banyak. Tidak cuma soal sosialisasi, bahkan soal regulasi. Di negara maju seperti A.S. misalnya, asosiasi profesional berhak mengeluarkan surat izin praktek, bekerja atau semacamnya bagi anggotanya. Tanpa izin praktek atau semacamnya, anggota tidak dapat menjalankan profesinya. Sementara yang bukan anggota, biasanya akan menemui kesulitan karena konsumen mensyaratkan keanggotaan asosiasi agar dapat dipercaya. Asosiasi juga rajin melakukan sosialisasi terhadap fungsi profesinya. Ini tentu agar masyarakat makin mengerti bagaimana melakukan pemilihan atas jasa profesional yang diberikan. Dengan begitu, tidak hanya tenaga kerja saja, tapi juga masyarakat konsumen pada umumnya akan bisa mewaspadai tawaran yang bukan cuma tidak profesional, tapi juga tidak proporsional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s