Pengusaha versus Pekerja (1)

Paradigma dikotomis ini kerap diumbar dalam demonstrasi terutama yang disponsori oleh lembaga atau LSM perburuhan. Apalagi dalam iklim ‘rawan PHK’ seperti sekarang ,dimana banyak perusahaan terancam bangkrut. Padahal, paradigma macam ini bukan saja tidak sesuai, malah keliru sama sekali. Sebabnya jelas, baik pengusaha maupun pekerja atau buruh sama-sama saling membutuhkan.

Tuntutan kenaikan upah, penolakan PHK atau tindakan pengurangan tenaga kerja lainnya, sejatinya tidak masuk akal. Ini sama seperti meminta tetangga kita selalu membukakan pintu untuk kita tiap kali kita datang dan pergi. Memaksa pengusaha selalu menerima tuntutan buruh, adalah sama dengan memaksa orang lain melakukan tindakan yang kita inginkan. Tindakan yang jelas mau menang sendiri.

Di tengah bayangan krisis global yang tengah melanda, banyak pengusaha harus memperhitungkan langkahnya dengan hati-hati. Kalau belum pernah jadi pengusaha, memang kelihatannya enak. Bisa bangun siang, ke kantor suka-suka, tidak ada yang mengatur, dan embel-embel lain. Tapi orang lupa, bahwa kalau seseorang sudah jadi pengusaha, ia mempertaruhkan hidupnya dalam usahanya. Apalagi kalau perusahaannya tersangkut masalah, ia harus mempertanggungjawabkannya bahkan hingga ke hadapan hukum. Kalau perusahaan bangkrut, seorang pengusaha jelas harus susah-payah membangun lagi bisnisnya. Sementara kalau pekerja dipecat, ia tinggal mencari pekerjaan lain dan melenggang meninggalkan perusahaan lamanya yang bangkrut. Patut diketahui, kebangkrutan sebuah perusahaan tidak serta-merta membuat pengusaha tutup mata. Ia masih harus membereskan begitu banyak urusan, terutama kewajiban perusahaan termasuk hutang usaha. Sementara, kalau karyawan dipecat, ia bisa tutup mata terhadap kewajibannya di perusahaan tempat ia semula bekerja. Mau bangkrut kek, mau rugi kek, ora urus!

Masalahnya memang di dapur.

Kita berupaya mempertahankan agar dapur tetap ngebul, bukan begitu?

Kalau itu tujuannya, seharusnya baik pengusaha maupun pekerja harus berupaya bekerja sesuai proporsinya untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Karena pengusaha maupun pekerja jelas punya kepentingan yang sama. Tidak bisa pekerja terlalu menuntut pengusaha begini-begitu, tanpa mengerti kesulitan yang tengah dihadapi perusahaan.

Advokasi atau pendampingan dari sponsor lembaga perburuhan, biasanya tidak mau tahu atau mengesampingkan faktor beban perusahaan atau kesulitan pengusaha. Itu terjadi karena makin banyak mereka mensponsori pergerakan buruh, apalagi kalau sampai bisa menggalang massa supaya demo jalanan, makin banyak dana mereka terima dari funding luar negeri. Coba bayangkan, darimana mereka dapat makan kalau kerjanya tiap hari menggalang demo? Ya dari mengorganisir demo itu lah.

Makanya, di zaman sulit seperti sekarang ini, jangan mudah terhasut. Demo boleh saja, asal semua jalan di atas meja perundingan sudah mentok. Toh demo pun pada akhirnya juga akan diselesaikan tuntutannya di atas meja perundingan. Jadi, jangan mudah panas. Suasana sudah panas soalnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s