Public Speaking & Self Confidence

Hari Sabtu kemarin, saya sempat mengikuti sebuah presentasi pelatihan public speaking. Meski saat ini merasa tidak ada kesulitan bicara di depan umum, tapi pelatihan itu memberikan saya sejumlah ’kesegaran’ baru. Saya selalu berupaya membangun perspektif open mind, sehingga segala ilmu dengan mudah masuk. Itulah yang selalu saya coba sampaikan kepada rekan-rekan LifeLearner semua. Belajar dari mana saja, dari siapa saja, kapan saja.

Dalam urusan berbicara ini, tidak dinyana begitu banyak orang yang mengalami masalah. Dan ketidakmampuan bicara di hadapan publik rupanya telah menghambat komunikasi. Pimpinan tidak mampu mengarahkan bawahan, sebaliknya bawahan tidak bisa menyampaikan aspirasi kepada pimpinan. Begitulah.

Saya sendiri jadi tahu kelemahan saya.

Walau terbiasa bicara di depan umum, tapi seringkali saya merasa orang lain tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Lebih jauh lagi, seolah mereka bahkan tidak tahu saya bicara apa. Ada sebabnya, saya bicara sangat cepat. Kalau Anda pernah dengar Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie bicara, ya kira-kira seperti itulah kecepatan saya bicara. Kalau ada yang pernah bertemu saya di masa lalu dan sekarang, mungkin bisa melihat bedanya. Sebenarnya apa yang saya capai sekarang itu berkat belajar tanpa henti. Pun dalam soal bicara, saya belajar mengerem kecepatan bicara saya. Demikian pula dengan diksi atau pilihan kata, saya belajar memilih kata paling efektif dan tepat guna. Dengan begitu maksud saya lebih mudah dan cepat tersampaikan.

Dari presentasi pelatihan itu saya juga jadi makin sadar bahwa urusan bicara saja erat kaitannya dengan kepercayaan diri. Jadi, orang yang self confidence-nya kurang, niscaya juga akan mengalami masalah dalam public speaking. Tapi tidak sebaliknya. Orang yang jago ngomong di depan umum, belum tentu tidak punya masalah dalam kepercayaan diri. Terkadang, itu justru upaya darinya untuk menutupi kekurang-pede-annya.

Satu yang menarik dari ilustrasi trainer pada saat itu adalah, ternyata, kemampuan public speaking kita berhenti saat masih di bangku taman kanak-kanak. Sehingga, banyak orang dewasa yang tetap memakai gaya murid tk saat harus bicara di depan umum. Misalnya saja tangan yang kaku tetap di samping badan bak tentara sedang berdiri.

Saya juga mendapat info baru bahwa pendengar lebih mengutamakan unsur visual daripada suara atau materi yang dibicarakan. Tak heran, seorang pembicara handal akan juga mempersiapkan penampilan fisik sebaik-baiknya. Padahal, kebanyakan orang justru sibuk mempersiapkan materi pembicaraannya. Baik itu berupa pidato, presentasi, atau malah fakta-fakta. Itu membuat saya langsung ngeh bagaimana memperbaiki kemampuan tim marketing saya.

Jadi, yang paling utama sebelum tampil di hadapan publik adalah memperbaiki diri dulu. Istilahnya, sebelum memulai komunikasi inter-personal, sebaiknya kita berkomunikasi intra-personal dulu. Berkomunikasi dengan diri sendiri, membereskan masalah pribadi. Karena kalau masalah pribadi tidak dibereskan, pasti akan berimbas pada cara berkomunikasi inter-personal kita. Dan jelas, akan sangat menurunkan self-confidence kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s