Hukum & Budaya Feodal

Beberapa hari lalu saya sempat ’numpang lewat’ di launching buku mantan Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, SH. Launching itu terbuka untuk umum, jadi saya tidak akan sok mengklaim kenal dengan beliau dan dapat undangan khusus. Buku beliau itu berjudul Bukan Kampung Maling, Bukan Desa Ustadz. Anda mungkin masih ingat, ungkapan bahwa kehadiran beliau di ranah hukum Indonesia pernah diistilahkan seorang wartawan bak ustadz di kampung maling. Sebuah ungkapan yang membuat banyak pihak kebakaran jenggot, karena seolah selain sang Jaksa Agung penghuni ’kampung hukum’ lainnya terutama Kejaksaan Agung tempatnya bekerja adalah maling semua.

Saya tidak hendak membahas buku itu, namun ada ungkapan yang menarik dari beliau saat bicara.

Beliau mengatakan bahwasanya masalah terbesar di Indonesia dalam bidang hukum bukanlah masalah penegakan hukumnya semata, melainkan justru masalah kultur atau budaya. Ia mengatakan, budaya kita ini amatlah feodal, sehingga seseorang yang memiliki jabatan tertentu dianggap sudah pasti benar. Bahkan katanya, kita ini lebih feodal daripada semua negara monarki yang masih ada di Eropa. Di negeri-negeri itu, bahkan anggota keluarga kerajaan pun harus patuh pada hukum negara.

Tapi, di sini, tidak usah anggota keluarga presiden, orang-orang di bawahnya pun bisa saja mengangkangi dan mengakali hukum. Toh Habib Rizieq rasanya harus menjilat ludahnya sendiri, saat ia mengatakan “kelemahan saya adalah tidak bisa jadi besan presiden, jadinya dituntut seperti ini.” Sebabnya, Aulia Pohan yang dimaksudkannya ternyata sudah dicokok oleh KPK dalam kasus aliran dana bantuan hukum BI. Jadi, meski kondisi dunia hukum di Indonesia amat carut-marut, ternyata masih ada harapan tersisa.

Satu hal yang disoroti oleh Abdul Rahman Saleh adalah budaya feodal yang amat kental. Dalam dunia hukum, itu berarti tripartit penegak hukum (polisi, jaksa, hakim) merasa bak penguasa yang tak pernah salah. Dalam dunianya, mereka haruslah dihormati bak dewa. Dan inilah yang menyulitkan penegakan hukum karena tentu saja mereka tak rela kedudukannya diganggu. Bahkan orang yang relatif bersih seperti Abdul Rahman Saleh dengan posisi setinggi Jaksa Agung saja tak kuasa memberantasnya. Lalu, siapa yang bisa ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s