Sumpah Pemuda

Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang dikaitkan dengan 100 Tahun Kebangkitan Bangsa diwarnai dengan guyuran hujan. Padahal, semenjak awal tahun, pencanangan tahun 2008 sebagai Tahun Kebangkitan Nasional Kedua tampak gegap-gempita. Yah, namanya juga kita cuma manusia bukan? Apa mau dikata persiapan sudah oke, tapi alam bicara lain.

Terserahlah soal seremoni yang dilakukan pemerintah, termasuk pernah menggelar pesta gila-gilaan mewahnya di Stadion Utama Senayan. Tapi yang lebih utama bagi rakyat adalah masalah riil: daya tahan perekonomian rakyat yang memburuk. Bolehlah ada indikator makro yang menunjukkan adanya kestabilan, peningkatan, dan sebagainya. Tapi masalahnya, yang dirasakan rakyat adalah harga yang makin mencekik leher, kelangkaan sejumlah bahan pokok, sulitnya mencari pekerjaan, infrastruktur yang makin tidak terawat, hingga kemacetan yang makin parah. Semua itu masalah riil yang tampak sederhana saja di mata penguasa. Namun, sejatinya itu memberatkan rakyat.

Apa hubungannya dengan Sumpah Pemuda?

Banyak.

Dahulu, di tahun 1928, saat Indonesia bahkan belum lagi terbentuk, para pemuda berpendidikan tinggi tercerahkan kesadaran berbangsanya bahwa mereka sebagai suatu kumpulan manusia berhak untuk merdeka. Maka, dibubarkanlah sekat-sekat itu. Kesadaran bahwa ada satu ciri pemersatu yang bisa membuat orang Batak dan orang Jawa merasa senasib-sepenanggungan. Sebuah entitas bernama Indonesia.

Dan segala kebutuhan riil rakyat itu haruslah dicoba wujudkan, karena itulah sebenarnya esensi hidup berbangsa: meraih kesejahteraan. Apabila hal itu diabaikan penguasa, jangan heran lantas ada yang merasa perlu untuk membuang identitas Indonesianya. Bahkan bisa jadi mengentalkan identitas primordialisme dan sektarianismenya.

Saya pernah mendengar teori konyol dari orang yang tidak suka pada Indonesia. Ia mengatakan sebenarnya Cut Nyak Dhien, Diponegoro dan sebagainya itu bukan berjuang untuk Indonesia. Lha, memang bukan. Masing-masing pahlawan itu berjuang melawan penjajahan. Makanya momentum Sumpah Pemuda itulah yang mempersatukan. Kalau kemudian Indonesia yang terbentuk kemudian mengklaim semua orang itu sebagai pahlawannya, ya wajar saja. Lha wong mereka itu memang hidup di area yang kini bernama Indonesia. Mungkin beliau lupa kalau sejarah selalu begitu.

Misalnya saja perjuangan William Wallace. Apakah saat memberontak melawan penguasa ia berniat mendirikan negara Skotlandia? Tentu tidak. Tapi kini orang Skotlandia tetap menganggapnya sebagai ”bapak bangsa”.

Yang tidak kita sadari, walau katanya sudah seratus tahun ada ”Kebangkitan Nasional”, tapi sesungguhnya ke-Indonesia-an masihlah terus menjadi. Ia tidak akan kunjung selesai. Saya jadi teringat tulisan alm. Nurcholish Madjid berjudul ”Menemukan Keindonesiaan” pada dekade 1970-an. Dalam tulisan tersebut ia mengingatkan, sebetulnya apa yang dinamakan keindonesiaan sampai sekarang masih dalam taraf pertumbuhan, dan agaknya masih jauh dari selesai. Dan ia mengatakan bahwa faktor paling penting yang menumbuhkan kesadaran berbangsa adalah pendidikan. Itulah yang menjadi frame of reference dan memberikan kesadaran kepada sejumlah orang untuk merintis perjuangan kebangsaan, membukakan jalan menuju kemerdekaan, dan yang paling besar impaknya: mengadakan kongres pemuda dengan Sumpah Pemudanya. (Nurcholish Madjid. Islam Kerakyatan dan Keindonesiaan: Pikiran-pikiran Nurcholish ’Muda’. Bandung: Mizan, 1993. p.130-133.).

Dari situlah kemudian kita semua bisa mengenyam hidup di tanah bernama Indonesia ini. Dan tentu, upaya mempertahankan Sumpah Pemuda tak akan pernah cukup cuma dengan mengadakan upacara, semegah apa pun. Namun lebih penting lagi menggelorakan semangatnya dalam dada tiap pemuda Indonesia. Sehingga mereka bisa berteriak lantang membela sang merah putih: Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s