Film Laskar Pelangi (I)

Hebat! Ini fim Indonesia dengan detail terbaik yang pernah saya tonton! Saya berikan sepuluh jempol –dengan meminjam jempol Anda deh :)- untuk film ini. Saya adalah penikmat film –sebutan kerennya movie-goers– yang gemar sekali memperhatikan banyak hal saat menonton film. Dan menurut saya, film ini merupakan hasil kerja keras Riri Riza dan timnya yang luar biasa.

Setelah Tjoet Njak Dhien (1988) garapan sutradara Eros Djarot, film ini mampu menyalipnya dan menjadi film nasional paling detail tanpa cacat. Detail yang saya maksud adalah dalam penyediaan propertinya sesuai setting waktu dan tempat. Situasi penggambaran setting waktu film yang di tahun 1974 menuntut pencarian atau pembuatan ulang properti di masa itu. Tentu ini sesuai dengan penggambaran di novelnya. Anda pasti sudah tahu dong kalau film ini diangkat dari novel laris berjudul sama karya Andrea Hirata? Bagi saya pribadi, film ini bahkan jauh lebih baik dan membumi dibandingkan novelnya.

Banyak detail yang amat sangat tidak perlu -dimana memakan begitu banyak halaman- dalam novel berhasil dibuang atau dibumikan oleh Riri Riza. Misalnya kepintaran Lintang yang tampak bak otak Einstein, Stephen Hawking, Adam Smith dan Shakespeare digabung sekaligus dalam novelnya, justru dibumikan dengan sederhana dalam film. Kepintaran Lintang dan penggambaran keluarga nelayannya yang tidak tampak jelas dalam novel, justru terlihat seimbang dalam film. Saat lomba cerdas-cermat yang di novel pertanyaan dan jawabannya begitu dahsyat untuk ukuran anak SD, bahkan di kota besar sekali pun, diganti lebih membumi di filmnya. Kemenangan tim Lintang bahkan dramatis dan dengan angka tipis, tidak seperti di novel yang bak jago kungfu shaolin melawan Kungfu Panda 🙂

Demikian pula dengan Mahar yang di novel begitu luar biasa bakat kesenimanannya, dalam film terasa wajar. Ia menenteng radio yang baterainya berkali-kali dipakai ulang dengan cara dikeringkan, sebuah detail yang bahkan tidak ada di novelnya. Pengetahuannya tentang musik pun dibatasi terutama pada musik Melayu, meski ada satu adegan ia mendengarkan musik jazz dari radionya. Suaranya pun tidak seluar biasa dahsyat merdunya seperti digambarkan di novel, melainkan khas suara anak-anak yang tak jarang meleset nadanya. Namun satu yang paling saya salut adalah casting pemilihan pemeran yang terasa pas ditambah penggunaan dialek Melayu Belitong yang kental. Memang semua pemain untuk karakter anak-anak Laskar Pelangi adalah anak asli Belitong. Luar biasa pula riset yang dilakukan, membuat saya teringat pada penggunaan bahasa Indian suku Sioux-Lakota yang nyaris punah dalam film favorit saya garapan Kevin Costner: Dances With Wolves (1990).

Detail-detail juga tampak pada penggunaan seragam PN Timah, sepeda dan mobil yang digunakan, bahkan hingga pernak-pernik yang digunakan pemain. Sebutlah misalnya di toko Sinar Harapan , terlihat ada kemasan dus obat gosok Rheumason lama dan kapur cap Matjan. Merek-merek tersebut memang populer di masa itu. Ikal juga satu kali terlihat membaca harian sore Sinar Harapan edisi minggu, yang entah kebetulan atau tidak sama dengan nama tokonya yang memang disebutkan di novelnya. Sementara untuk foto lama yang menjadi opening film, tampaknya sengaja digarap ulang oleh fotografer Timur Angin putra penyair-budayawan Seno Gumira Adjidarma. Bisa jadi satu paket dengan still photo yang ada dalam websitenya. Tapi kalau itu asli, hebat juga risetnya bisa menemukan foto kru pertambangan timah zaman dulu. Saya jadi ngeh kalau kata “Billiton” yang hingga sekarang masih dipakai perusahaan pertambangan Amerika Serikat BHP Billiton itu asalnya dari kata “Belitung”.

Juga kotak kaleng serbaguna bergambar gadis Prancis dan menara Eifell hadiah untuk Ikal dari Ai Ling pun dibuat duplikatnya. Demikian pula poster lama Rhoma Irama pun harus diprint lagi. Jelas sulit mendapatkan properti asli semacam digambarkan di novelnya, bahkan terasa mustahil. Detail itu bahkan tidak tampak digambarkan dalam novelnya. Namun dengan kreatifnya Riri menambahkannya di filmnya.

Riri Riza juga menambahkan detail pada plang larangan masuk ke area milik PN Timah yang di novelnya terdapat di halaman 36 dan 58. Dalam novel hanya disebutkan larangan berbahasa Indonesia: “Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Memiliki Hak”, sementara dalam film ditambahkan bahasa Belandanya sekalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s