Laskar Pelangi: Novel Sarat Beban Moral (II)

Satu kelemahan utama dari buku ini adalah pengarangnya mengambil sudut pandang ”mendaku”, tapi tidak sesuai dengan konteks kala waktu penceritaan. Artinya, setting waktu penceritaan adalah kala kini -present time- dengan alur maju, namun ”aku liris” bertindak, bersikap, dan bertutur bak ”narator” yang telah mengetahui kejadian sebelum terjadi. Ini mengakibatkan ”aku liris” bak dewa yang tahu segalanya. Coba Anda pikir, apa mungkin seorang anak kelas satu SD tahu begitu banyak hal seperti dituturkan Andrea. Pengarang menuliskan novel semi-biografi ini dengan pengalamannya kini sebagai orang dewasa. Simak penuturan di halaman 4: ”Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup”. Luar biasa daya analisis dan keluasan wawasan seorang anak SD dari keluarga miskin di pulau terpencil ini. Belum lagi kalimat-kalimat yang banyak mengatasnamakan karakter lain. Lihat kalimat di halaman selanjutnya: ”Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada kesempatan pagi ini.” Luar biasa bagi ”aku liris” karena ia juga memiliki kemampuan cenayang! Karena pidato Pak Kepala Sekolah yang dipersiapkannya diam-diam ternyata telah diketahui oleh ”aku liris” sebelumnya! Dan membaca kalimat-kalimat tidak logis itu saya lantas berhenti membaca beberapa halaman sesudahnya.

Alur maju yang dijadikan sandaran cerita dalam novel ini kerap tersendat-sendat oleh detail penjabaran aneka masalah teknis oleh pengarangnya. Pengambilan sudut pandang ”God’s eye” menjadikan ”aku liris” seolah tahu begitu banyak hal. Dalam menggambarkan kepintaran Lintang dan kesenimanan Mahar, ”aku liris” malah tampak lebih hebat dari keduanya. Dengan kondisi sekolah miskin di daerah terpencil, penggambaran kepintaran Lintang bak juara olimpiade matematika, fisika, kimia, dan peraih nobel kesusastraan sekaligus. Sementara muasal kejeniusan luar biasa itu hanya dijustifikasi dengan kerajinan Lintang mencuri baca buku-buku di ruang kepala sekolah saat menyapu. Dapatkah Anda bayangkan buku-buku macam apa yang ada di ruangan kepala sekolah SD miskin di desa terpencil? Karena saya sendiri pernah melakukan bakti sosial di SD semacam itu, saya tahu gambaran seperti di novel adalah amat sangat mustahil. Apalagi Mahar yang digambarkan bak juara bintang radio-televisi, Asia Bagus, dan Bahana Suara Pelajar sekaligus. Luar biasa hebat dan berbakat. Lagi-lagi ketidakmungkinan karena ia tahu begitu banyak lagu klasik dan jazz yang ditahbiskan diperolehnya dari radio. Bisa Anda bayangkan radio apa yang menjangkau pulau di tengah laut pada tahun 1974? Asal tahu saja, di tahun itu, RRI saja siarannya masih terbatas. Sementara TVRI baru saja memulai siarannya. Kalau pun didalihkan ada siaran masuk dari Malaysia, saat itu negeri jiran tersebut malah tak lebih maju dari kita. Jadi, darimana Mahar memperoleh berbagai pengetahuan seperti diperolehnya dalam novel? Dua orang itu bak Nabi saja laiknya, sementara Ikal sang aku liris malah bisa jadi Rasulnya. Itu karena keluarbiasaan bakat yang digambarkan sang pengarang.

Kenikmatan membaca novel ini tidak sebanding dengan membaca Harry Potter, bahkan tidak juga sekedar serial Harlequin atau novel misterinya Marga T. Buat saya, kenikmatan membaca Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh yang merupakan buku pertama dari trilogi Supernova karya Dewi ’Dee’ Lestari jelas masih lebih ”mak nyus” daripada membaca Laskar Pelangi. Padahal, sewaktu dulu diluncurkan di tahun 2001, novel ini dikritik sebagai terlalu rumit dan banyak menempelkan aneka teori secara serampangan. Tapi ternyata, penempelan di Laskar Pelangi jauh lebih dahsyat. Teori itu ditulis dengan dampak sengaja memamerkan keluasan pengetahuan dan wawasan penulisnya yang lulusan Sorbonne University-Paris itu. Membandingkan dua buku tersebut bak makan gado-gado buatan lokal dan yang dimasak oleh chef di hotel. Biar yang kedua dimasak oleh ’koki sekolahan’, berharga lebih mahal dan tentunya menghasilkan uang lebih banyak, tapi tetap lebih enak yang pertama.

Semua keanehan itu memang bisa dimaklumi, termasuk adanya kalimat tak selesai di halaman 44. Itu karena draft buku ini semula tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan. Konon seorang sahabat Andrea-lah yang mengantarkannya ke penerbit Bentang di Yogyakarta. Haidar Bagir, pemilik kelompok usaha Mizan yang membawahi Bentang saat ke Yogya ditunjuki draft buku ini dan memerintahkan agar diterbitkan. Keputusan tepat karena buku ini kemudian meledak penjualannya. Apalagi ditunjang dengan wawancara Andrea dalam talkshow KickAndy di MetroTV.

Kehadiran novel ini berhasil lebih karena momentum yang tepat, yaitu saat bangsa ini perlu bahan bacaan pembangkit semangat. Nilai moral yang begitu sarat dalam novel ini seolah menjadi teladan di tengah kemiskinan panutan masyarakat kita. Ditambah lagi penerbit Bentang yang merupakan grup Mizan mampu mendapatkan ”Blurp” dari begitu banyak tokoh terkenal. Tokoh mana yang, jujur saja, saya tidak yakin sempat membaca kata-per-kata dari buku ini. Toh, buku ini bagaimanapun tetap fenomenal. Penerbitannya mengejutkan banyak kalangan karena berhasil memberikan penggambaran lugas mengenai kondisi sesungguhnya dunia pendidikan kita. Kondisi yang sempat membuat berang Wapres Jusuf Kalla saat seorang guru menghadiahinya puisi bernada protes di tahun 2007 lalu.

Selain itu, buku ini telah memberi kesejahteraan bagi banyak orang. Terutama tentu saja bagi penerbit dan pengarangnya. Juga bagi para tokoh yang menjadi inspirasi penulisannya. Ibu Muslimah misalnya, mendapatkan hadiah mobil dari ibu Ani Yudhoyono karena beliau mengetahuinya dari Kick Andy. Sebuah pertanda bagus bagi dunia perbukuan di Indonesia tentunya.

Tidak heran ketika menonton filmnya, banyak yang berpendapat Riri Riza telah berhasil melakukan re-interpretasi. Bahkan bagi saya, inilah film adaptasi novel buatan Indonesia paling berhasil. Lengkapnya, silahkan baca resensi filmnya yang akan saya sampaikan pada hari Sabtu (25/10) besok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s