Laskar Pelangi: Novel Sarat Beban Moral (I)

Kali ini saya hendak melunasi hutang janji untuk membahas buku pertama dari tetralogi fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata ini. Karena cukup panjang, maka saya akan membaginya menjadi dua bagian. Membicarakan karya yang sudah laku lebih dari 300.000 copy ini bisa jadi bias karena ketenarannya. Karena itu, saya mengulasnya saat filmnya muncul agar sebagai penonton film bisa membandingkan dengan saat jadi pembaca buku. Saya pun meletakkan buku ini dalam kriteria penilaian yang sangat subyektif, jadi sah-sah saja bila Anda yang membaca blog ini tidak sependapat.

IMHO (In My Humble Opinion), membaca buku ini melelahkan. Saya harus berhenti setelah membaca sepuluh halaman pertama. Ini tidak biasa bagi saya yang terbiasa membaca buku-buku ’berat’ teks filsafat, agama, atau politik. Apa sebabnya? Bagi saya, bahasanya tidak mengalir. Dan setelah ngobrol dengan beberapa teman penyuka buku dan sastra, banyak di antaranya yang sependapat dengan saya. Inti pendapat mereka adalah, “capek membacanya.”

Jujur saja saya baru memaksakan diri untuk membaca seutuhnya saat akan membuat resensi yang tidak dibayar siapa-siapa ini. Dan ternyata saya mendapati satu lagi ciri khas bacaan kesukaan orang Indonesia: sarat pesan moral, yang bagi saya justru pesan itu lantas jadi beban.

Bagi bangsa yang memang gemar berslogan, bersemboyan, dan punya banyak petatah-petitih, hal ini sebenarnya tidak mengherankan. Kenyataan ini seolah hanya menegaskan, bahwa bangsa ini begitu senang diarahkan oleh orang yang dianggap lebih ahli. Dan dalam hal ini Andrea berhasil memposisikan diri sebagai orang ahli yang memberi pesan moral tadi.

Posisi pengarang dalam karya ini adalah sebagai aku liris, dengan pola protagonis aktif bukan narator. Pilihan ini menjadikan Andrea seolah sebagai ’dewa’ yang tahu segalanya. Ia menceritakan pengalaman hidupnya dengan dramatis seolah ’memang sudah ditakdirkan begitu’. Kisahnya sendiri sebenarnya merupakan pola yang umum disukai penonton dan pembaca awam. Itulah yang disebut Cinderella Story atau metamorfosis. Tokoh protagonis biasanya akan mengalami penderitaan hidup dengan berbagai variannya, ia berjuang mengatasinya, dan akhirnya berhasil meraih kesuksesan.

Dengan demikian, membuka halaman-halaman awal buku ini, sudah akan tertebak bagaimana akhirnya. Apalagi novel ini merupakan penggambaran pengalaman pribadi penulisnya sendiri. Karena pembaca bisa mencari tahu kondisi penulisnya saat buku ini diluncurkan, maka bisa jadi kisahnya akan berakhir bahagia. Meski, tentu saja detail perjalanan meraih kebahagiaannya itulah yang justru menarik untuk dibaca.

Singkatnya, buku ini merupakan kisah hidup sekelompok anak di pulau penghasil timah, Belitong. Meski memiliki hasil tambang yang besar di masanya, namun ternyata dari segi ekonomi tidak berimbas banyak pada kesejahteraan penduduk lokal. Ini termasuk pula kepada aku liris yang diberi nama karakter Ikal, yang bersekolah di sebuah SD Muhammadiyah. Namun ia memiliki tekad keras untuk maju, seraya menikmati kehidupan yang sederhana namun penuh warna. Bersama teman-temannya, ia membentuk apa yang kemudian dinamakan ”Laskar Pelangi” oleh gurunya, ibu Muslimah. Selain Ikal sang aku liris, terdapat delapan orang anak lelaki lainnya yaitu Kucai si ketua kelas, Lintang si jenius, Mahar si seniman, A Kiong anak Tionghoa, Trapani yang dekat dengan ibunya, Syahdan yang bertubuh kecil, Borek yang dijuluki Samson karena bertubuh besar, dan Harun yang terbelakang mentalnya. Ditambah satu orang anak perempuan yaitu Sahara, genaplah mereka bersepuluh.

Perjalanan hidupnya dalam mengenyam pendidikan dasar hingga kenekatannya untuk terus berjuang itulah yang jadi inti buku ini. Selain kesepuluh orang anggota ”Laskar Pelangi”, seorang guru yaitu ibu Muslimah dan kepala sekolah bernama Pak Harfan menjadi protagonis. Nyaris tidak ada tokoh antagonis selain penggambaran ketimpangan sosial-ekonomi yang jelas ditumpukan pada ketidakadilan yang dilakukan PN Timah.

Perusahaan Negara (PN) Timah, seakan menjadi monster besar yang dijadikan ’common enemy’ oleh semua protagonis dalam novel ini. Kalaupun ada antagonis lain adalah Pengawas Sekolah Depdikbud Sumsel yang mengancam akan menutup sekolah tersebut. Hanya karena kebijakan sang penilik sekolah saja SD Muhammadiyah tidak ditutup, walau pasca sepuluh orang anggota ”Laskar Pelangi” tidak ada murid lagi yang mendaftar.

2 responses to “Laskar Pelangi: Novel Sarat Beban Moral (I)

Tinggalkan Balasan ke bhayu Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s