Bali: Antara Bom, ABG, dan Perampokan Budaya

Bom Bali yang meledak di tahun 2002 diperingati pada 12 Oktober lalu. Di tanggal itulah terjadi peristiwa mengenaskan yang mencorengkan arang di muka negara kita. Bom Bali yang diledakkan oleh Imam Samudra dan Amrozi itu mengakibatkan korban ratusan tewas termasuk WNA (Warga Negara Asing). Dan pemerintah Indonesia bertindak cukup cepat sehingga otak pemboman bisa ditangkap.

Terlepas dari ’teori konspirasi’ yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu, terdakwa kasus bom Bali ini memang terbukti secara meyakinkan bersalah. Kini, semua terdakwa tengah menunggu eksekusi hukuman mati yang menurut informasi akan dilaksanakan segera sebelum tahun 2008 berakhir.

Masih dari Bali, Indonesia mendapat kehormatan menyelenggarakan ABG. Tapi ABG yang ini bukanlah Anak Baru Gede, melainkan Asian Beach Games. Hajatan besar ini akan diadakan dari 18 hingga 26 Oktober 2008 dan baru pertama kali diadakan. Berbeda dengan bom Bali, ajang olahraga ini merupakan publikasi positif bagi negara kita. Apalagi diadakan di lokasi pariwisata andalan yang sempat luluh-lantak citranya gara-gara ledakan di tahun 2002 tersebut. Presiden IOC (International Olympic Commitee) Jacques Rogge sendiri bahkan menyempatkan diri hadir di acara yang pembukaannya dilakukan langsung oleh Presiden SBY itu.

Di tengah-tengah kesibukan panitia menyelenggarakan ABG, yang justru kurang terdengar gaungnya di daerah lain termasuk di Jakarta, berita memprihatinkan menyeruak. Berita ini juga berasal dari Bali. Yaitu perampokan kekayaan budaya kita oleh pihak asing. Kita tahu beberapa waktu lalu Desak Suarti menghadapi masalah dengan WTO (World Trade Organization) karena dituduh melanggar Trade Related Intellectual Property Rights (TRIPs). Padahal, ia menjual karya seni khas Bali yang ternyata telah dipatenkan orang asing yang pernah menjadi salah satu konsumennya. Dan gobloknya, ini bukan pertama kali -dan tentunya bukan yang terakhir- terjadi. Apa yang dilakukan pemerintah untuk melindunginya?

Kita makin bingung apa sebenarnya yang dilakukan oleh pemerintah selama bertahun-tahun. Kita mafhum, selama ini pemerintah kita bercorak ganti penguasa ganti kebijakan. Hanya saja masalah budaya ini tentunya bukan masalah yang baru muncul satu-dua tahun. Tapi tampaknya pemerintah kena fenomena kodok rebus. Anda tahu kan, kodok hidup kalau dimasukkan air panas pasti akan refleks meloncat. Sementara kalau ia dimasukkan air dingin yang ditaruh di atas kompor, ia akan tenang-tenang saja sampai airnya jadi matang dan ia terebus hidup-hidup. Jadi, pemerintah tampaknya tak sadar ada pihak lain yang berupaya menghancurkan negeri kita, dan baru sadar saat satu-satu kekayaannya hilang. Bahkan sepertinya walau sudah ada yang hilang, tetap saja tak sadar-sadar juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s