Peringatan Hari TNI

Di tengah ancaman krisis ekonomi dunia, TNI ternyata mampu menggelar unjuk kekuatan pada peringatan Hari TNI di Pangkalan TNI AL Tanjung Perak Surabaya yang merupakan Markas Komando Armada Timur (Armatim). Luar biasa, karena bagaimanapun kondisinya, personel TNI kita tampak masih gagah dan berupaya siap membela negara dari ATHG (halah, ingat pelajaran P4 dulu) apapun. Eh, ngomong-ngomong, ATHG itu Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan.

Tentu saja, ada doktrin yang berubah. Terutama dari masalah bisnis TNI

Hanya saja, sulitnya semua banyak yang masih wacana. Masalahnya apalagi kalau bukan keterbatasan anggaran. Pemerintah kita yang tengah berjuang mengelola negara harus mengelola APBN untuk banyak sektor. Dan pertahanan termasuk sektor yang minim mendapatkan perhatian.

Toh dalam keterbatasan, prajurit TNI kita dituntut untuk selalu siap. Latgab TNI 2008 yang digelar beberapa waktu lalu setidaknya menunjukkan kesiapan itu. Walau arti siap di sini lagi-lagi sekedarnya saja. Insiden penerobosan jet tempur Amerika Serikat hingga ke atas perairan Laut Jawa di tahun 2006 misalnya, merupakan pertanda lemahnya sistem pertahanan kita.

Membanggakan sebenarnya menyaksikan parade kekuatan tentara kita. Di negara-negara maju, defile pasukan tersebut senantiasa dilakukan pada hari-hari peringatan penting. Terutama sekali pada hari ulang tahun angkatan bersenjatanya atau hari kemerdekaan. Dan efeknya sangat bagus untuk moralitas prajurit dan rakyat kita sendiri.

Saya termasuk yang setuju anggaran pertahanan harus dinaikkan. Melihat ada panser amfibi tenggelam dan menewaskan satu regu pasukan marinir kita yang tergolong elite –dan karenanya biaya membentuknya mahal- tentu menyedihkan. Makin menyedihkan mengetahui betapa banyak alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI kita yang lapuk termakan usia. Tentu saja kenaikan anggaran pertahanan ini harus selaras pula dengan kenaikan pagu anggaran pendidikan dan kesehatan.

Saya lantas teringat pada computer game yang beberapa waktu lalu sempat sering saya mainkan. Judul game itu Superpower, berkisah tentang bagaimana sebuah negara menguasai dunia. Luar biasa detail walau membosankan bagi kebanyakan gamers karena bertipe TBS (Turn-Based-Strategy). Dalam game itu kita seolah adalah partai penguasa suatu negara mana pun yang bisa kita pilih sendiri, tujuannya adalah untuk menjadi superpower dan menguasai dunia. Selain soal ekonomi, penguasa juga dituntut mampu memanajemeni banyak sektor. Satu hal yang luar biasa, game itu punya data lumayan detail soal pertahanan semua negara. Bahkan pangkalan-pangkalan militer kita dan bagaimana kekuatan di tiap satuannya. Walau ada beberapa kekeliruan kecil, tapi saya masih merasa itu menakjubkan.

Dan ternyata setelah beberapa lama bermain, saya berhasil membuat Indonesia menjadi negeri adidaya pada tahun 2040-an dengan pengaturan ekonomi terutama neraca ekspor-impor dan penerimaan pajak yang progresif. Dan tentu saja imbasnya kita bisa belanja senjata apa saja, bahkan jadi produsen senjata utama dunia. Bangga sekali rasanya!

Yah, meski cuma computer game, tapi di situ terlihat bahwa militer terkait erat dengan dunia bisnis dan perekonomian. Jadi, kalau pun di HUT-nya yang ke-63 sesuai amanat UU No.34/2004 -yang ditandatangani Presiden Megawati saat itu- TNI harus mengalihkan bisnisnya kepada pemerintah, seyogyanya dipikirkan jalan keluar agar pertahanan kita tidak lantas kendur. Terutama sekali kepada kesejahteraan prajurit dan kesiapan alutsistanya. Karena tanpa prajurit dan alutsista memadai, tentara cuma macan kertas.

Jangan heran kalau banyak serdadu lantas nyambi sana-sini kaerna merasa kesejahteraannya tak terpenuhi. Menurut data dari Tim Nasional Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI, gaji dasar tertinggi seorang jenderal –pangkat tertinggi dalam kemiliteran- saja hanya Rp 2.515.000 per bulan. Sementara hasil kerja seorang petugas keamanan swasta –terutama pengawal uang atau instalasi vital- tak kurang dari Rp 1.000.000 per hari! Tentu ini menggiurkan bagi personel TNI yang jelas lebih kompeten.

Tidak mudah memang mengelola anggaran kecil di tengah tuntutan yang meninggi. Apalagi perang kini sudah meningkat ke era yang berbeda: sibernetika dan informatika. Negara kita tampak tak siap. Ini ditandai dengan jebolnya situs-situs penting pemerintah kita oleh hacker beberapa waktu lalu saat kita ’berperang’ di dunia maya melawan Portugal dalam kasus Timor-Timur atau Malaysia dalam kasus Ambalat dan batik. Para pembela kehormatan bangsa justru para jagoan komputer kita di sudut kamar kos gelap yang berperang sembari merokok, minum kopi, dan sarungan. Mereka menyerang balik situs-situs ’lawan’ dengan cepat. Satu hal yang mungkin masih dianggap remeh oleh TNI dan pemerintah kita.

Satu hal yang pasti, jangan biarkan personel TNI rusak profesionalitas militeristiknya karena kekurangan anggaran. Dan juga jangan biarkan kehormatan TNI kita diinjak-injak bangsa asing karena masalah HAM yang berbeda perspektif. Satu hal pasti, tanpa TNI, kita akan makin dilecehkan bangsa lain. Bukankah itu amanat Letjen Urip Soemahardjo dulu: ”Tidak mungkin suatu negara zonder tentara.” Jadi, kehadiran tentara profesional adalah mutlak.Kita dukung bersama reformasi TNI agar di kemudian hari kita bisa melihat mereka dengan bangga, segagah tentara A.S. di film-film Hollywood.

 

One response to “Peringatan Hari TNI

  1. YUUP…SETUJU SEKALI……DAN BIAR MATA ANGGOTA HEWAN EH ANGGOTA DEWAN MAKSUD SAYA…..NGERTI….BAHWA NEGARA AKAN DI SEGANI JIKA :
    1. RAKYATNYA SEHAT……..Kesehatan dijamin oleh negara
    2. RAKyatnya pintar…..pendidikan dijamin oleh negara
    3. Tentaranya kuat alutsistanya

    Bikin tuh undang-undang yang mengatur ke sana….jangan molor and nggedein perut doang…..kekal di neraka baruntau rasa lu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s