Manusia Menjadi Tuhan

Erich Fromm pernah menuliskan buku You Shall Be As God (1978). Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan oleh penerbitnya menjadi judul posting tulisan ini. Di buku itu, Fromm yang kerap disebut sang maestro cinta –karena pernah menuliskan buku berjudul The Art of Loving (1956)- melakukan tafsir ulang atas Bible dan sejarah Yahudi. Suatu kajian yang kalau di Indonesia dengan penuh syak wasangka akan dikategorikan sebagai paham pluralisme. Dan pluralisme –kata MUI- adalah haram.

Dengan enaknya Fromm mengutak-atik apa yang selama ini sudah lama diyakini orang sebagai kebenaran, padahal sejatinya ia cuma kelaziman (common sense). Dan karena dilakukan sangat akademis, tidak menimbulkan kehebohan seperti novel Da Vinci Code (2005) yang fiktif itu. Artinya, kalau ada dasarnya disertai riset kuat serta argumen sahih, ternyata sebuah kontroversi atau hal pelik bisa diterima. Atau setidaknya, dibiarkan tidak berkembang jadi polemik.

Dari tulisan Fromm itu saya menangkap satu ide dari sekian ide yang diutarakannya, bahwasanya manusia menyembah Tuhan justru dengan maksud agar dirinya kelak menjadi Tuhan. Artinya, bak diutarakan Plato, keinginan menyatu dengan yang ideal merupakan hakekat terdalam jiwa manusia. Karena dunia ini adalah dunia citraan dari dunia ide, maka penyatuan kembali dengan asalnya itulah yang dirindukan. Bangsa Israel pemeluk Yahudi yang menjadi inti telaahan Fromm dalam buku itu, berabad-abad merindukan penyatuan diri kembali dengan Eheyeh . Ini adalah konsep Tuhan yang rumit dari Yahudi, yang sulit dipahami oleh umat beragama lain. Nama Eheyeh itu sendiri menyatakan Tuhan, tapi keberadaannya tidak lengkap sebagai sesuatu, tapi ini merupakan proses yang hidup, menjadi sesuatu: hanya sesuatu, yakni, yang telah mencapai bentuk akhir, dapat mempunyai nama. Artinya, Tuhan Israel sebenarnya adalah Tuhan tanpa nama. Karena ia adalah Tuhan yang diyakini tak pernah final. Hanya berhala yang punya nama, karena mereka berarti sesuatu.  Tuhan ‘yang hidup’ tanpa nama. Dan karena kita sebagai manusia tak tahu tentang Tuhan, dan pernyataan diri Tuhan kepada Nabi Musa, maka nama Eheyeh sebenarnya bukanlah nama. Karena secara harfiah ia berarti “tanpa nama”. Begitulah keyakinan Yahudi.

Dari situ, kita mengerti bahwa bagi Yahudi, kita manusia tak akan bisa mengenal Tuhan dan akibatnya segala hal tentang Tuhan menjadi mustahil. Seperti kata Musa Maimonides, segala sifat positif bagi Tuhan adalah mustahil. Karena dengan mensifati Tuhan, seolah kita mengenal Tuhan dan membatasi ketakterbatasan Tuhan.

Karena ‘buta’ terhadap Tuhannya, manusia berupaya menyatukan dirinya dengan Tuhan melalui berbagai cara. Kasyaf atau pengungkapan hijab misalnya, adalah salah satu fase dalam sufistik Islam yang hendak dicapai untuk mencapai level ma’rifat, manungguling kawulo gusti, atau penyatuan diri dengan Tuhan. Ini memerlukan disiplin diri luar biasa. Al-Ghazali -pengarang Ihya’ Ulumuddin yang jadi rujukan baik bagi sufi maupun golongan salaf- saja perlu 15 tahun upaya penyucian diri dengan menjauhkan diri dari masyarakat atau hidup zuhud.

Sementara di masyarakat kita, terlihat telanjang ada golongan yang berupaya memaksakan ‘penyatuannya dengan Tuhan’ dan mempertontonkannya kepada masyarakat. Mereka seolah pamer bahwa hanya merekalah yang bisa disebut alim. Kata ini sendiri terdegradasi maknanya, menjadi seolah berarti orang shaleh. Padahal, arti harfiahnya adalah orang berilmu. Padahal, dengan pamer kesucian, sebenarnya golongan tersebut jelas tidak berilmu.

Saya terkejut saat pekan lalu melihat seorang wanita dikeroyok oleh golongan ini dalam sidang pengadilan pimpinan golongan ini. Padahal sebabnya hanya salah dengar. Seorang wanita dari golongan ini mendengar wanita lain pengunjung pengadilan mengomentari tindakannya dengan kalimat “….. (nama golongan ini) teroris”. Padahal dari rekaman video terdengar jelas yang dikatakan wanita pengunjung lain itu adalah, “Tindakan begini ini yang membuat Islam disebut teroris”. Tindakan yang dimaksud oleh wanita itu adalah tindakan wanita dari golongan tersebut yang memaksa si wanita pengunjung yang sudah hadir lebih dulu untuk pindah tempat duduk.

Dan naudzubillah min dzalik, bagi yang bisa melihat, di mata para anggota golongan tersebut bersemayam setan. Karena mereka membiarkan diri dilanda nafsu amarah yang syataniyah. Padahal, Khalifah Umar bin Khattab pernah membatalkan membunuh seorang musuh, hanya karena si musuh membuatnya marah dengan meludahi wajah sang Khalifah. Saat ditanya kenapa ia batal membunuh musuh agama, Khalifah menjawab, “Aku tak mau bertindak selain karena Allah. Karena kalau tadi aku bunuh dia, aku membunuhnya karena marah.” Luar biasa pengendalian dirinya. Tak heran Rasulullah sendiri kerap memujinya. Ini yang sekarang harus diajarkan lewat kursus mahal para motivator: pengendalian diri.

Kemampuan pengendalian diri pula yang menyebabkan manusia akan bisa merasakan kehadiran Tuhan. Sedikit demi sedikit. Tahap demi tahap. Manusia kerap tak menyadari, bahwa dalam hidup kita sebenarnya senantiasa diuji. Dan bila bisa lulus ujian, maka kita akan naik kelas. Sayangnya, seperti iklan Pepsi di Jepang (bagi yang pernah ikut seminar motivasi mungkin pernah lihat), manusia kerap tidak menyadari adanya sekolah kehidupan ini sehingga hidup hanya lewat saja. Dari lahir jadi bayi dan ma’ bedundug, tau-tau mati jadi mayat.

Dan bila kita berhasil lulus ujian kehidupan ini satu demi satu, maka janji Tuhan amat manis: manusia akan menjadi diri-Nya. Manusia akan menjadi Tuhan. Dan penyatuan diri dengan Tuhan itulah yang tidak bisa dicapai dengan teriak-teriak nama Tuhan di jalan, melainkan dengan kesunyian zikir tengah malam. Bukan dengan memaki orang lain, tapi justru melalui berbagi dengan sesama. Memang sulit, tapi bukan tidak mungkin. Maukah kita mencobanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s