Cermin (2)

Hati adalah cermin, tempat pahala dan dosa bersatu (Tuhan, lagu, Bimbo)

Nah, apa yang ada di dalam hati, biasanya juga keluar menjadi tingkah laku dan kepribadian kita. Memang, kita sebagai manusia kerapkali berusaha bertingkah laku sesuai norma yang hidup di masyarakat kita. Sebab, bila tidak kita akan jadi makhluk asosial. Dan kalau sifat asosial ini dibiarkan terus, lama-kelamaan akan jadi psikopat. Karena seorang psikopat ciri yang menonjol adalah ia tidak mau menerima tatanan masyarakat dan bertindak semata menuruti pertimbangannya sendiri yang tidak selaras dengan realitas.
Tapi sekarang kita tidak bicara soal psikopat, kita bicara soal hati sebagai cermin manusia. Dalam hidup, kita kerap berhadapan dengan hati yang menyuarakan nurani. Dalam bahasa Inggris, saya menyukai ungkapannya yaitu conscience. Karena kata yang sama juga bermakna kesadaran. Jadi, bila kita mendengarkan nurani, maka kita juga berada dalam kondisi sadar sesadar-sadarnya.
Membicarakan nurani, berarti juga sebenarnya membicarakan pilihan. Karena tidak pernah kita bertindak tanpa melakukan pilihan lebih dulu. Meski tindakan tersebut sudah menetap dalam bawah sadar, sejatinya pada awalnya pembiasaan tindakan itu didahului dengan pilihan. Ketika kita memilih memakai nurani, berarti kita menyadari adanya suatu hukum moral. Hukum moral inilah -merujuk pada Kant- yang mengatur perikehidupan manusia. Hukum moral ini yang membuat manusia tidak saling membunuh dan tatanan masyarakat tidak kacau. Kita memilih untuk mematuhi atau sebaliknya tidak mematuhi hukum moral ini.
Masalahnya, sejatinya hukum moral berada di dalam hati. Dan seperti kata pepatah, “dalamnya samudra bisa diduga, dalamnya hati siapa tahu,” apa yang ada di dalam hati manusia hanya sang pemilik hati itulah yang tahu.
Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk membuka hatinya, tapi sebenarnya psikologi bisa meraba hati seseorang dari kepribadian dan tingkah lakunya. Ini dinamakan teori proyeksi yang awalnya ditemukan oleh Freud.
Seorang yang hatinya busuk, walau ditutupi dengan pakaian mahal dan gaya hidup mewah, tetap saja akan terlihat busuknya. Bak ikan yang ditutupi bagaimanapun akan tercium juga baunya. Kita lihat saja tingkah-polah para politikus kita yang seolah paling bermoral membela rakyat, padahal di balik jas dan lencana emasnya nuraninya memble (duh, ini tahun berapa ya? Kok masih pakai memble?)
Kita bisa melihat pada cara seseorang merefleksikan dirinya sendiri. Perlu keterampilan seorang ahli psikologi klinis ditambah sedikit kemampuan intuisi untuk meraba karakter seseorang. Tapi gampangnya, kita bisa melihat tulus-tidaknya seseorang dalam bertindak sebagai cerminan kebeningan hatinya. Gampangnya, seseorang yang ringan tangan untuk menolong orang lain bisa diperkirakan memiliki nurani lebih kinclong dibanding yang tidak. Makin sering dan makin mudah kita menolong siapa pun yang membutuhkan, akan makin mengkilapkan cermin kita. Dan itu akan terpantul pula dalam keseharian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s