Sang Kolonel

Saya mau cerita dua pengalaman berbeda hari ini, tapi dua-duanya menyangkut figur yang berkaitan dengan pangkat kolonel. Buat LifeLearner yang mungkin belum tahu, pangkat ini termasuk cukup tinggi. Dikategorikan sebagai perwira menengah, ia adalah pangkat tertinggi terakhir di tingkatan ini sebelum memasuki kategori perwira tinggi yang awam dikenal sebagai jenderal, mulai dari jenderal bintang satu atau brigadir jenderal.

Untuk jadi kolonel, normalnya seorang lulusan akademi kemiliteran (semua matra) perlu masa bakti tak kurang dari 24 tahun dalam dinas kemiliteran. Di Indonesia, sangat sulit bila seorang anggota militer non lulusan akademi dapat mencapai pangkat ini. Meski di luar negeri, seorang prajurit pun bahkan bisa jadi jenderal. Tentu bila dipandang berprestasi.

Nah, dua kisah nyata berikut ini terkait dengan bisnis. Yang satu terjadi sekitar dua tahun lalu, saat saya masih baru memasuki usaha desain grafis. Waktu itu, seorang teman dekat saya merekomendasikan usaha saya pada seorang kolonel yang sedang bertugas dalam pasukan Garuda di sebuah negara Afrika. Ketika itu, ceritanya sang kolonel hendak memesan kalendar untuk dibagikan dalam hari jadi TNI tanggal 5 Oktober. Ia rencananya akan sudah di Indonesia pada tanggal tersebut. Nah, masalah ada pada kepercayaan. Karena ini bisnis, maka saya meminta tanda jadi. Sang kolonel mengelak dengan mengatakan sulit di tempat tugasnya mencari bank.

Walau ragu karena ini era globalisasi, akhirnya saya meminta minimal ia mengirimkan surat pemesanan dengan kop resmi lengkap berikut nama, jabatan, pangkat dan NRP (Nomor Registrasi Prajurit) yang bersangkutan. Toh kalendar yang ia pesan merupakan kalendar resmi. Ia sudah mengirimkan desainnya lengkap dengan logo-logo kesatuannya melalui e-mail. Ternyata, dengan berbelit ia pun menolak mengirimkan surat yang saya minta.

Setelah berdiskusi dengan mitra bisnis saya, akhirnya dengan berat hati kami menolak pesanan sebanyak 10.000 eksemplar kalendar itu. Dan setelah tanggal 5 Oktober lewat, saya tanya pada teman dekat saya yang merekomendasikan tadi, apakah kalendarnya jadi dicetak. Ternyata jawabannya tidak. Dari hasil diskusi lebih lanjut dengan mitra bisnis saya yang juga menantu seorang jenderal, ia mengatakan kita tidak bisa percaya siapa pun dalam bisnis kecuali menuruti aturan. Bahkan kepada seorang kolonel sekalipun. Ia mengatakan sebelumnya pernah juga tertipu oleh seorang oknum tentara macam itu. Padahal, pangkatnya tidaklah rendah.

Nah, cerita kolonel kedua yang tentu berbeda orang terjadi kurang dari sepekan lalu. Ceritanya, kantor seorang teman dekat saya yang lain mengadakan pelatihan di sebuah hotel di kawasan Bogor. Nah, sudah jadi kebiasaan perusahaan tersebut untuk membayar DP 40 %, sisanya dibayar paling lambat sepekan sesudah acara selesai. Lah, ndilalah pas mau pulang, ada seorang yang mengaku jajaran pimpinan hotel tersebut datang. Ia menuntut agar pembayaran dilunasi hari itu juga. Kontan para penanggung jawab pelatihan bingung karena jumlahnya yang mencapai 100 juta-an. Bahkan sampai ada inisiatif mau patungan nalangin dulu. Sebabnya apa? Ternyata orang ini mengaku dirinya adalah kolonel aktif dan hotel itu ternyata memang milik sebuah lembaga negara yang terkait dengan dunia kemiliteran. Apalagi, sang kolonel memerintahkan tindakan penyanderaan dengan mengunci pintu dan memalangkan mobil di depan mobil rombongan teman saya. Benar-benar dramatis! Setelah negosiasi alot, akhirnya rombongan diperbolehkan pergi cuma dengan -lucunya- salah seorang pimpinan perusahaan meninggalkan KTP-nya. Tapi syaratnya adalah harus dilunasi maksimal dua hari setelah acara selesai.

Dari dua hal tersebut saya agak heran, karena ada benang merah yang kental: kok tentara berbisnis? Untuk bisnis kedua, malah bisnisnya legal karena milik lembaga negara. Kalau yang pertama sih bisa dibilang cuma ngobyek belaka. Padahal, menurut peraturan, sudah tidak diperbolehkan lagi militer berbisnis. Bahkan berbagai lembaga payung milik berbagai angkatan sudah dibubarkan.

Hal lain yang saya herankan adalah, kenapa seseorang berpangkat setinggi itu rela mempertaruhkan reputasinya -dan tentu juga reputasi angkatannya- dengan ‘bermain uang’ seperti itu. Bukankah citra warga negara kepada TNI secara keseluruhan akan ikut terpengaruh? Padahal, selayaknya TNI menjadi kebanggaan rakyat, karena memang seperti dicanangkan Panglima TNI Widodo AS dahulu, bukankah TNI Mengabdi Demi Bangsa? Tapi kok ada saja ya oknum-oknumnya yang macam itu? Duh….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s