Janji

“Insya Allah, ane bakal dateng.”

Masya Allah, betapa seringnya kita mendengar ucapan itu. Apa artinya? Artinya, hanya jika Allah tidak menghendaki, maka kita baru tidak bisa datang. Jadi, kita berniat dan bertekad datang, namun bila Allah menghendaki lain, apa boleh buat. Hanya force majeure (kondisi tak terelakkan) seperti bencana alam yang bisa menghalangi kita untuk datang. Tapi, Anda pasti tahu di tengah masyarakat Indonesia, kalimat itu artinya terdegradasi. Bila ada orang mengucapkannya, yang mendengar akan mengartikannya, “Sori ye, gak janji nih gue bisa dateng.”

Wah, padahal, sebenarnya dengan mengucap nama Allah, kita mengaitkan diri dengan Allah sebagai saksi ucapan kita. Betapa kita ternyata sering tidak takut pada Allah. Padahal, ucapan insya Allah adalah janji. Janji untuk melakukan sesuatu kepada orang lain. Tidak cuma sekedar datang, tapi bisa juga dipakai untuk hal-hal lain. “Insya Allah ane bantu” berarti benar-benar berniat membantu, bukan sebaliknya, “Eh, emang lu siapa minta gue bantuin?”

Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Quran, tepatnya di surat Al-Isra’ (17) ayat 34 yang artinya: “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti bakal diminta pertanggungjawabannya.” Toh peringatan itu tak membuat kita takut juga.

Tentu saja, pembatalan janji ini adalah pembatalan tanpa alasan jelas dan bisa diterima. Termasuk di antaranya malas, terlambat bangun, belum selesai mengerjakan apa yang diperjanjikan, dan semacamnya. Kalau ada alasan jelasnya, selain force majeure juga adanya perubahan jadwal, beberapa hal yang belum dapat dipenuhi karena hambatan dari pihak ketiga, atau semacamnya, tentu bisa diterima. Pembatalan janji yang bisa diterima adalah bila ada pengganti janji itu atau solusi lain sebagai kompensasi dari implikasi yang terjadi akibat pembatalan janji.

Apa saya termasuk orang yang mematuhi janji? Halah, boro-boro. Saya itu sering banget ingkar janji. Paling sering sih ingkar janji dalam soal perkuliahan. Janji -sama dosen- untuk datang kuliah, ternyata mangkir. Janji untuk menyetorkan makalah, eh, ditunda karena belum kelar. Bahkan proposal tesis saja belum saya setorkan sejak awal semester. Hehehe.

Tapi untuk soal bisnis, karena implikasinya bisa meluas, saya berusaha menepati janji sebisa mungkin. Nah, itu dia kuncinya. Ternyata, kalau ada implikasi langsungnya di dunia, kita bisa sampai terkencing-kencing memenuhi limit perjanjian, baik tenggat waktunya maupun detail lainnya. Padahal, baik ada implikasi langsungnya atau tidak, semestinya kalau kita berjanji ya harus ditepati. Cara sederhana untuk mengingatkan saya sendiri adalah, tidak enak kan kalau ada janji dengan orang lain dan orang lain itu membatalkan tanpa sebab jelas dan tidak ada pengganti atau jalan keluar lain dari janji yang dibatalkan itu?

Karena insya Allah pekan depan sudah Ramadhan, maka kali ini saya juga sekaligus minta maaf pada Anda sekalian pembaca blog ini, LifeLearner sekalian, kalau-kalau ada janji saya yang tidak tertepati. Misalnya janji update tiap hari yang satu-dua kali ternyata harus di-rapel. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s