Politisi DPR, Uang dan Ketenaran

Membaca Riwayat Hidup Indra Jaya Piliang di websitenya (http://www.indrapiliang.com.) saya sungguh trenyuh. Luar biasa perjuangannnya. Tapi tampaknya sekarang yang bersangkutan sudah cukup mapan. Apalagi setelah kemarin mendeklarasikan diri sebagai politisi -ia tidak memakai istilah politikus- dari Partai Golkar. Tentu saja, bila ia berhasil menjadi anggota DPR, kemapanannya akan makin mantap.

Saya tidak menyangka ia akan menganggap saya sebagai ‘pembuka jalan’ bagi karier kepenulisannya seperti ditulisnya di dalam websitenya. Sejujurnya, ia memang sudah potensial semenjak mahasiswa, karena itu ‘mengorbit’ sebenarnya tinggal menunggu waktu saja.

Saya mengerti, kenapa orang berdedikasi seperti IJP -begitu kami terkadang memanggilnya- berniat menjadi anggota DPR. Ia merasa tidak bisa memperbaiki sistem dari luar. Bila ia memilih Partai Golkar, mungkin ia ingin menjadikannya sebagai sarana pengabdiannya kepada masyarakat. Dan dari dalam, tentu perbaikan sistemnya akan lebih mudah.

Tapi yang saya tidak habis mengerti, buat apa orang-orang yang sebenarnya jalurnya bukan di politik lantas banting setir ke politik. Orang dengan track record aktivis seperti Indra dan saya, bila suatu saat terjun ke politik praktis masih terhitung wajar. Tapi kalau orang yang ‘buta politik’ ujug-ujug jadi politisi, itulah yang perlu dipertanyakan.

Apalagi kalau yang asalnya adalah selebriti. Beda dengan selebriti di luar, selebriti Indonesia umumnya ‘cuma jual tampang’. Kebiasaan itu pun bisa jadi masih berlanjut begitu jadi politisi. Tentu ,tidak semua begitu. Ada nama Nurul Arifin di Golkar dan Wanda Hamidah di PAN yang selebriti cum politisi matang pu’un, bukan karbitan.

Tak bisa dipungkiri, menjadi politisi berarti juga menjadi selebriti. Artinya, ketenaran akan menghampiri karena media akan senantiasa berada di sekelilingnya. Anehnya politisi kita, jarang yang tampil di media karena kinerjanya. Yang ada baru tampil justru setelah kena masalah, baik masalah politik, hukum, atau rumah tangga.

Menjadi selebriti juga berarti menjadi ‘magnet penarik uang’. Tanpa perlu ikut seminar ‘cara menjadi kaya’ sekali pun. Dan di sinilah godaan itu datang. Uang bisa membuat politisi lupa pada janji dan konstituen, bahkan pada keluarga di rumah. Apalagi politisi yang sebenarnya ‘ideal’, yaitu berasal dari komunitas akar rumput atau rakyat kebanyakan. Karena mumpung dapat uang banyak, maka ia bisa lupa daratan, ingat lautan. Ia bak kacang lupa kulitnya. Tak heran, dalam sidang-sidang DPR, kita sering saksikan pemandangan kursi kosong melompong ditinggal anggotanya yang ‘kejar setoran’. Semoga Indra -kalau terpilih- bisa bergabung dengan golongan yang menjadi lawan politik anggota DPR ‘sontoloyo’ macam itu. Toh masih ada orang-orang lurus di Senayan sana…

One response to “Politisi DPR, Uang dan Ketenaran

  1. Assalamu alaikum,

    Alhamdulillah msh bisa ngakses lifeschool, mau ikutan comment, di mata saya yg tidak mengerti banyak dunia politik, harapannya sih moga2 makin banyak aja politisi yg bener2 mau jadi wakil rakyat (kalo di DPR), atau bener2 pemimpin yg amanah (kalo jd presiden), kalo lihat kenyataan sekarang, rasanya makin jauh dari harapan saya. Sekian aja…lg lumayan sibuk sih, makasih email balasannya, cuma saling mengingatkan……biar inget terus …
    Wassalamu alaikum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s