Nyamuk

Sesungguhnya ALLAH tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari RABB mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud ALLAH menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan ALLAH, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-NYA petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan ALLAH kecuali orang-orang yang fasik. [Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2):26].

Sebagai orang yang masih berjuang, saya kerapkali harus tidur di kantor. Kebetulan salah satu kantor saya dikelilingi tanah kosong bersemak yang potensial jadi sarang nyamuk. Akibatnya, tak jarang malam-malam saya harus bergulat dengan nyamuk. Meski sudah disemprot obat nyamuk, toh mereka seakan tak ada habisnya. Tak heran, karena dulu saya pernah membaca jumlah nyamuk di dunia 5 kali lipat jumlah manusia. Bila saat ini jumlah umat manusia 5 milyar orang, berarti ada 25 milyar ekor populasi nyamuk di bumi!

Saat saya bergadang menyelesaikan pekerjaan, saya kerap memperhatikan mereka. Baik yang sudah mati bergelimpangan kena semprotan obat nyamuk atau tepukan tangan, maupun yang masih terbang dengan riang. Dan saya seakan diberi kesempatan untuk merenungkan ayat di atas. Ternyata, binatang yang kita pandang remeh, pengganggu bahkan penyebar penyakit itu adalah pejuang!

Coba pikirkan, betapa mereka rela mati dalam mencari makan! Tak bisa dipungkiri, makanan nyamuk satu-satunya adalah darah. Dan karena darah berada dalam tubuh makhluk hidup lain yang tidak rela diambil, maka semua nyamuk senantiasa terkena ancaman pembunuhan. Apakah komunitas nyamuk lantas berhenti mencari makanannya yang berupa darah dan beralih jadi makan nasi pecel? Tentu tidak! UN alias United Nyamuk tetap sepakat untuk makan darah. Meski itu berarti harus tetap menghadapi resiko mengorbankan nyawa sesama mereka.

Itulah yang saya pikirkan dan koneksikan dalam kehidupan kita. Seringkali sulitnya keadaan dalam mencari rezeki membuat kita seolah hendak menyerah saja. Padahal, kesulitan itu bahkan tidak sampai melukai kita, apalagi mengancam jiwa kita.  Jadi, kenapa musti berhenti dan menyerah? Tidak ada pilihan lain selain terus maju dan berjuang mencari rezeki.

Apalagi kita sebagai manusia dianugerahi banyak kelebihan dibandingkan nyamuk, terutama akal-budi. Dengannya kita bisa meng-up grade kemampuan kita. Kalau nyamuk, dari zaman Ice Age sampai The Day After Tommorow (dua-duanya judul film bow!) kemampuannya mencari rezeki ya begitu-begitu saja. Makanya, jangan putus asa. BBM boleh naik, tapi kita harus tetap berjuang! Masa’ kalah sama nyamuk?

One response to “Nyamuk

  1. hehe, baru tau ni ada ‘United Nyamuk!’ I do opposite with those insect! huh! bEtE kl “nguing2nya” menggoda d telinga (menggoda u/ d basmi!-red)
    Tp sesungguhnya sekecil apapun tak ada yg sia2 dciptakan Allah…
    dan itu hanya dpt diketahui oleh hamba2-Nya yg mau berfikir.
    Masalahnya mas…, mngambil hikmah dr contoh khidupan terkecil makhluk-Nya ketika kt dhadapkn pd masalah, itu SULIT nya minta ampun! fighting spirit, IKHLAS,duh itu hal yg BERAAAAAT bgT! hiks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s