Hari Minggu Saya

Hari ini saya dikecewakan kembali untuk kesekian kalinya oleh seorang yang mengaku teman saya. Beberapa hari lalu saat ditelepon ia mengatakan sedang berpameran di JCC Senayan-Jakarta dan meminta dikunjungi. Akhirnya hari ini saya berkesempatan datang. Tapi ternyata, sesampainya di lokasi ia malah tidak ada.

Agak heran juga karena ini hari terakhir dan mestinya dia bersiap-siap membongkar stand, bukan? Karena saya juga pernah pameran di sana, biasanya kesibukan terjadi pada H-1, hari pembukaan dan hari penutupan. Dan saya sudah bertanya kepadanya lewat telepon apakah tiap hari dia ada di pameran. Jawabannya ya.

Saat saya telepon, ia malah seperti tidak ingat telah  meminta saya datang. Malah ia sedang di rumah. Halah! Mungkin karena boss jadi dia merasa tidak perlu datang kali yaaa. Tapi dengan begitu saya jadi tahu tabiatnya karena ini bukan kali pertama ia begitu saat berjanji. Maka, saya pun memberi catatan tersendiri pada namanya.

Beberapa jam sebelumnya, saya pun menyempatkan diri melakukan pertemuan dengan para anggota suatu tim pekerja sosial. Saya pernah menulis juga di blog ini kalau saya berniat mengkonkretkan niat saya bersedekah dan melakukan kerja sosial. (mohon do’a dan dukungannya, LifeLearner). Yah, ada prospek sih dengan pihak lain ini. Hanya saya perlu waspada pada beberapa hal antara lain keprofesionalannya. Ditambah lagi dengan sikap dan cara bicara pimpinannya yang agak kurang menghargai orang lain.

Untungnya, saya cukup terhibur dengan sempat menonton film Ayat-Ayat Cinta. (saya akan tulis resensinya besok).  Agak terlambat memang karena belum mendapatkan waktu yang cocok saja. (Bukan karena sibuk, karena saya tak pernah merasa sibuk). Saat di bioskop, saya memperhatikan ada fenomena menarik. Yaitu berkumpulnya penonton dari berbagai lapisan.

Padahal, biasanya bioskop hanya dipenuhi oleh tiga golongan: movie goers, anak muda termasuk pasangan muda, dan  anak gaul termasuk abg. Pada musim liburan atau ada film anak-anak barulah ada keluarga dengan putra-putrinya. Tapi untuk film ini, penontonnya benar-benar berwarna. Ada yang memakai jubah panjang dan berjenggot, wanita bercadar, bapak-ibu yang nonton berdua, atau kakek-nenek dan cucunya.

Rupanya film yang juga telah menarik Presiden dan Wapres untuk menonton ini telah mampu meledakkan euforia. Tentu ini sangat bagus bagi perkembangan film Indonesia. Ternyata film bermutu pun disukai masyarakat. 4 juta penonton tentu bukan angka kecil. Dan pastinya sangat menguntungkan bagi produser dan semua yang terlibat. Senang juga masih sempat menonton film yang mencerahkan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s