Artikel Sumbangan

Saya menerima tulisan bagus dari Arianto Widyatmo tentang Pemanasan Global melalui e-mail. Dengan izin yang bersangkutan, tulisan tersebut saya muat untuk kita baca bersama di bawah ini.

PEMANASAN GLOBAL DAN TINDAKAN KITA

oleh: Arianto Widyatmo

 

Pemanasan global akibat kesalahan manusia mengelola alam sejak 10-15 tahun yang lalu. Salah satu tanda pemanasan global adalah kemarau yang panjang, panas dan kering; tetapi di lain pihak musim hujan akan pendek namun dengan intensitas tinggi sehingga tanah tidak mampu segera menyerap air hujan, dan terjadilah banjir dimana-mana.

Hal yang dapat kita lakukan saat ini adalah berbuat sesuatu agar anak dan cucu kita tidak mengalami nasib yang lebih buruk. Jika kita berbuat sesuatu maka ada kemungkinan anak atau cucu kita mendapatkan kondisi alam yang lebih baik – atau minimal sama dengan saat ini. Jika kita tidak berbuat sesuatu maka anak-cucu dipastikan akan menghadapi alam yang lebih buruk – dan alangkah tidak bertanggung-jawabnya kita membiarkan anak-cucu menghadapi alam yang lebih buruk pada hal kita dapat berbuat sesuatu.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan saat ini :

  1. Merubah pendapat bahwa bernafas itu gratis. Kita sudah biasa jika di terminal atau pompa bensin BAK atau BAB bayar Rp.1000 atau lebih. Namun adakah Bapak/Ibu berpikir bahwa menghirup nafas (O2-oksigen) juga harus bayar? Jika tidak, mulai saat ini pendapat itu harus kita ubah. Pendapat yang mengatakan bernafas adalah gratis SALAH BESAR.Pendapat ini menjadi salah satu penyebab kekacauan alam yang kita alami sekarang. There is no free lunch (kata orang bule). Bagaimana caranya kita membayar oksigen yang kita hirup? Dengan menanam pohon besar (misal mangga – bukan kembang) di rumah kita. Oksigen yang kita hirup akan dibayar/disuplai oleh pohon tersebut dan CO2 (karbon dioksida) yang kita buang saat mengeluarkan nafas akan diserap oleh pohon itu. Jika kita tidak mempunyai pohon besar artinya KITA EGOIS. Kita MENGAMBIL (tetapi TIDAK MINTA IJIN) jatah O2 dan CO2 yang diusahakan oleh orang lain yang mempunyai pohon besar. Memang banyak di antara kita sudah tidak mempunyai halaman lagi. Jikalau demikian adanya Bapak/Ibu dapat menanam pohon besar dalam pot. Walau tidak sempurna namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Saya menganjurkan 1 pohon besar (yang ditanam di halaman) atau 3 – 5 pohon besar yang ditanam di pot untuk setiap keluarga (ayah-ibu dan 2 orang anak).
  2. Mengurangi Penggunaan Tas Plastik (Kresek) Banyak di antara kita jika pergi ke warung atau pasar tidak membawa tas. Para pedagang akan memberi kita tas kresek untuk membungkus barang yang kita beli. Nampaknya sangat praktis. Mohon untuk disadari tas kresek merupakan sumber pencemaran tanah yang paling banyak. Jika Bapak/Ibu mencoba mencangkul tanah di lapangan atau tanah fasilitas sosial maka akan didapati bahwa 80% polusi tanah disebabkan oleh tas kresek yang entah sudah beberapa tahun dibuang. Oleh karena itu, jikalau Bapak/Ibu pergi ke pasar atau warung, jangan lupa membawa tas. Mungkin aneh tetapi jika tidak dimulai dari kita apakah layak kita meminta orang lain melakukannya? Dahulu orang-tua kita atau saat kita masih kecil senantiasa membawa tas jika ingin berbelanja. Memang jika ke Hypermart, Indomaret, Alfamart, dsb. kita tidak bisa bawa tas sendiri. Namun mengurangi penggunaan tas kresek lebih baik dari pada tidak sama sekali. BERBUAT SESUATU LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK SAMA SEKALI.
  3. Bertanggung Jawab atas sampah domestik. Lebih dari 70% sampah rumah tangga (domestik) kita adalah sampah organik/basah. Seperti halnya “BERNAFAS ITU TIDAK GRATIS” maka kita harus bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan. Memang kita dapat membayar truk sampah untuk membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA). Namun, karena ternyata Dinas Kebersihan Kota tidak mengolahnya dengan baik sesungguhnya kita hanya memindahkan (masalah) sampah. Kita tidak dapat menutup mata bahwa sampah kita menjadi sumber polusi (karena tidak diolah dengan baik) karena yang menjadi taruhannya adalah masa depan anak-cucu. Saat anak-cucu kita telah dewasa namun mewarisi alam yang rusak, kita tidak bisa menyalahkan Dinas Tata Kota saat ini. Bagaimana pun juga kita harus bertanggung-jawab atas masa depan anak-cucu kita, sama seperti orang-tua atau kakek-nenek yang telah bertanggung-jawab atas kehidupan kita saat ini. Salah satu cara untuk mengelola sampah domestik adalah pembuatan KOMPOS. Memang sampah tidak dapat 100% tertangani dengan KOMPOS, namun setidaknya akan mengurangi hampir 70% masalah sampah. BERBUAT SESUATU LEBIH BAIK DARI PADA TIDAK SAMA SEKALI
  4. Menjaga Luas Daerah Resapan Air. Langkah ini merupakan langkah yang paling sulit karena sebagian besar kita telah menutup halaman rumah dengan semen. Namun, jika ada rejeki, mohon dapat dipikirkan untuk membuat sumur resapan atau biophori. Atau setidaknya, mohon tanah fasilitas sosial yang ada di lingkungan perumahan kita tidak di-semen. Biarkan tanah itu tetap terbuka. Seringkali fasilitas sosial ditutup con (concrete) block, bagaimana pun juga material ini tetap menghalangi air hujan diserap tanah, walaupun lebih baik dibandingkan tanah yang di-semen. Yang terbaik adalah lebih baik membiarkan tanah tetap terbuka

Pilihan ada di tangan Bapak-Ibu namun setiap pilihan akan mempengaruhi masa depan anak dan anaknya anak kita. Keputusan saat ini baru akan dirasakan dampaknya 10-15 tahun mendatang.

BERBUAT SESUATU LEBIH BAIK DARIPADA TIDAK SAMA SEKALI!

 

2 responses to “Artikel Sumbangan

  1. Salut. Setiap analisis mestinya harus gitu, ada langkah konkret. Kari kita galakkan, budaya ndesit tapi sip, ke pasar kita bawa tas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s