Sarimin

Today I want to write about Sarimin. For Indonesian, this name heard familiar. Maybe you ever heard about monkey road-comedy? Who’s the name of the monkey? Yap, Sarimin! But Sarimin in this writing is not about Sarimin the monkey, but monologue title which played by Butet Kertaredjasa in Art Summit Indonesia (ASI) 2007 at Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), November 14-15, 2007 a go. It will be played once more time at Purna Budaya Bulaksumur, Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasumantri, Yogyakarta on next November 26-27, 2007.

The story itself is about Sarimin –a player of monkey road-comedy- which found Indonesian citizen identity card of great judge coincidentally. He has a good will to return that ID through police station, but he unpredictable turn to accused as pilferer. He got many difficulties with police interrogation even he can cope it with his naïve. There is one interesting term: “Because I am right, you just wrong.” This statement feel close to our Indonesian law environment which is not walk on the right track.

If mass media review most of all talk about differentiation between the way Butet explored stage setting compared with former performance, “Matinya Toekang Kritik” (MTK) – The Death of Criticist”, I will appreciate it differently. It’s right Butet looked back to basic with exploring traditional theatre setting then former performance which he used many digital light effect. But what most interesting for me is this performance feel close to our daily life in Indonesia. Meanwhile MTK lies on unknown far place. Beside that the way Butet act likely influenced by his present character as President SBY-Si Butet Yogya-Butet of Yogya at NewsDotCom. This is TV comedy talk-show program at Indonesian news television Metro TV. His acting not improved much than his former MTK. But for all, Butet still be number one for monologue in Indonesia.

Furthermore, I feel hurt if remembering the message of this performance. Indonesian people at the present time facing arrogant styles from many sides. I remember TV news about Busway corridor making at Metro Pondok Indah, one elite area in Jakarta. How citizen effort to use law resistance faced with physical power by province government of Greater Jakarta Special Citizen Province. At the other place, law suit by province government of Greater Jakarta Special Citizen Province which came along with citizen at this time, facing problem of losing case when facing big enterprises at South Meruya. Law could not stand if the defender (tripartite police-attorney-judge) feel they can use it for their own purposes.

Kali ini saya ingin menulis soal Sarimin. Nama yang akrab di telinga? Yah… Anda mungkin masih ingat topeng monyet? Siapa nama monyetnya? Betul, Sarimin! Tapi Sarimin kali ini bukan soal Sarimin yang monyet, tapi lakon yang dipentaskan oleh Butet Kertaredjasa dalam Art Summit Indonesia (ASI) 2007 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), 14-15 November 2007 lalu. Selanjutnya ia akan dipentaskan juga di Purna Budaya Bulaksumur, Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri di lingkungan UGM, Yogyakarta pada 26-27 November 2007 mendatang.

Ceritanya sendiri berkisah soal Sarimin –tukang topeng monyet- yang menemukan KTP seorang hakim agung secara tidak sengaja. Ia yang berniat baik akan mengembalikannya melalui kantor polisi, malah dituduh sebagai pencopet. Ia mendapatkan banyak kesulitan dengan interogasi polisi meski akhirnya ia toh bisa mengatasinya dengan keluguannya. Ada ungkapan menarik yang digunakan yaitu: “Karena aku benar, maka kamu salah”. Ini terasa amat dekat dengan dunia hukum kita yang jelas tidak tegak.

Kalau ulasan di media massa hampir seragam bicara soal perbedaan cara eksplorasi tatanan (setting) panggung Butet dengan pementasan sebelumnya, “Matinya Toekang Kritik” (MTK), saya akan melihat dengan cara berbeda. Memang, kali ini Butet seperti kembali ke dasar dengan mengeksplorasi tatanan teater tradisional dibandingkan dengan pementasan sebelumnya yang banyak memakai tata lampu digital. Namun yang lebih menarik adalah lakon kali ini lebih lugas dengan mengambil suasana yang terasa amat dekat dengan kita. Sementara MTK seperti berada di negeri antah-berantah. Selain itu cara Butet bertutur kali ini seperti agak terpengaruh dengan gayanya di News Dot Com-nya Metro TV yang memerankan sosok Presiden SBY-Si Butet Yogya. Ia juga tidak begitu mengalami perkembangan akting dibandingkan MTK. Namun secara keseluruhan Butet rasanya tetap nomor satu untuk urusan monolog di Indonesia.

Lebih jauh, saya jadi miris mencerna pesan yang disampaikan pementasan ini. Mengingat saat ini rasanya kita sedang berhadapan dengan arogansi banyak pihak. Saya teringat tayangan televisi soal pembuatan koridor Busway di Metro Pondok Indah. Betapa usaha warga untuk mengajukan perlawanan hukum justru dihadapi dengan kekuatan fisik oleh Pemda DKI. Di saat lain, upaya hukum Pemda DKI yang justru bahu-membahu bersama warga justru mengalami kendala saat berhadapan dengan sebuah perusahaan besar di Meruya Selatan. Betapa hukum memang sulit ditegakkan selama para penegaknya (tripartit polisi-jaksa-hakim) merasa bisa menafsirkannya seenak perutnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s